Bagai Petir di Siang Bolong

Poin mengejutkan Kongres Ikatan Notaris Indonesia (INI) ke 22, 2016 adalah ketika Sekretaris Tim Pemilihan M. Fauzi dengan polosnya menyatakan bahwa hasil perhitungan sementara kartu suara adalah 2.198 surat suara. Saat itu pula terdengar suara riuh peserta setelah ketahuan ada perbedaan antara jumlah surat suara dan peserta yang memilih, yaitu 2.198 surat suara dan 2.184 orang peserta. Peserta di gedung kaget bukan main, ternyata ada kelebihan 14 surat suara !


Pertanyaannya, siapa yang menulis 14 surat suara itu (kalau dalam Pemilu istilahnya “menyoblos”). Dari sinilah peserta seolah mendapat “amunisi” untuk “menembak”. Mereka akhirnya meminta pertanggungjawaban panitia. Berikut ini kronologi perjalanan menit ke menit perjalanan sesi pemilihan sampai pelantikan Ketua Umum INI terpilih. Kronologi ini akan kami tampilkan ulang di medianotaris.com.
Setelah makan siang pemungutan suara dimulai. Panitia membuat pagar betis berkelok-kelok karena keterbatasan ruangan. Pemilihan berakhir sekitar jam 16.15. Setelah itu ruangan dikosongkan untuk persiapan penghitungan suara. Ketua Tim Pemilihan Hasnah meminta wartawan yang ingin menyaksikan proses ini untuk keluar ruangan. Hal ini berbeda dengan saat Kongres IPPAT tahun lalu, 2015, di Surabaya, seluruh proses dilakukan terbuka untuk umum dan simpatik. Sebagai gambaran, Pemilu legislatif dan Pemilihan Presiden pun dilakukan terbuka di TPS-TPS tanpa harus memerintahkan wartawan dan masyarakat untuk keluar meninggalkan arena.


17.10 : Setelah selesai persiapan, peserta dipersilakan masuk ke ruangan untuk mengikuti acara penghitungan suara.

17.15 : terjadi perdebatan sebelum menghitung suara mengenai cara menghitung.
17.21 : kertas suara dimasukkan jadi satu ke dalam satu kotak.
17.22 : masih terjadi diskusi tentang bagaimana cara menghitung yang cepat.
17.25 : ada peserta yang meminta jangan dilakukan penghitungan suara dulu sebelum dipastikan jumlah pemilih yang melakukan pemilihan. Menurutnya, logikanya jumlah suara yang masuk ke kotak pasti sama dengan jumlah pemilih yang memilih dan masuk kebilik suara. Pendapat ini untuk memastikan tidak ada permainan.
17.26 : panitia menayangkan jumlah peserta kongres yang terdiri, jumlah peserta/ notaris aktif 2.480, jumlah peserta lolos finger print 2.340, jumlah peserta yang mengikuti pemilihan 2.184.
17.39 : suasana makin panas karena peserta mempertanyakan dari mana angka-angka ini, apakah angka ini ditetapkan dengan disaksikan para saksi, serta meminta agar surat suara jangan dihitung dulu sebelum angka itu jelas asalnya.
17.40 : Ketua Presidium Zul Trisman menjawab bahwa panitia hanya sedang merapi-rapikan kertas suara, bukan menghitung. Pihaknya menyampaikan sedang menunggu petugas untuk menjelaskan angka-angka tersebut dari mana.
17.52 : Sekretaris Tim Pemilihan Fauzi dengan polos tiba-tiba menyebut : “... Berdasar hitungan sementara jumlah kertas suara adalah 2.198”. Bagai petir di siang bolong, angka jumlah suara ternyata sudah dihitung! Padahal tadinya pendapat floor meminta agar jangan dihitung dulu. Peserta heboh. Ternyata angka ini berbeda dengan angka peserta yang mengikuti pemilihan, yaitu 2.184 orang.
Dari perbedaan 14 suara ini sepertinya peserta mendapatkan “amunisi” untuk mempersoalkan kualitas pelaksanaan pemilihan tersebut. Peserta mempertanyakan hal ini. Suasana makin menegangkan. Interupsi pun meluncur berkali-kali.
17.55 : Peserta meminta agar presidium rapat tertutup dengan para caketum untuk menentukan lanjut atau tidaknya (Kongres).
18.04 : Peserta Kongres, Ariandi dari Kabupaten Tangerang, menyatakan kecewa dan meminta agar uang peserta Kongres
dikembalikan.
18.06 : Presidium dan caketum meninggalkan ruangan Kongres untuk rapat tertutup, acara diskors.
22.50 : Presidium dan caketum kembali ke ruangan Kongres setelah rapat selama hampir 5 jam.

22.52 : Ketua Presidium Kongres INI Zul Trisman menjelaskan hasil rapat tertutup Presidium dengan calon ketua umum. Menurut penjelasannya, dari hasil rapat tersebut.....”karena sebelumnya sidang-sidang menyepakati bahwa absensi peserta adalah 5 kali, dan kemudian setelah beberapa sidang akhirnya diputuskan bahwa absensi hanya 3 kali. Untuk itulah bagian IT pun tidak sempat memperbaiki sistemnya. (peserta menyoraki dengan “huuu...”).
Dengan sabar Zul Trisman melanjutkan, setelah adanya keputusan melakukan absensi 3 kali dengan DPT 50% + 1 sebanyak 2.340 peserta, peserta melakukan absensi lagi baik (dengan) finger print untuk mengambil surat suara, dan di daftar (yang ada pada) ahli IT, dilakukan (finger print) oleh peserta kongres sebanyak 2.038 orang. Dengan finger print 2.038 orang ini melakukan pengambilan kertas suara untuk menggunakan hak pilih. Setelah itu katanya , ndilalah ( dalam bahasa Indonesia bisa berarti “ secara tidak sengaja atau tak disangka-sangka”) setelah peserta menggunakan hak pilih dan memasukkan surat suara ke kotak, ditemukan surat suara sementara sebanyak 2.198 surat suara, artinya ada kelebihan jumlah 160 suara. (Setelah itu peserta berteriak : “huuuu....”
Dari keterangan Zul Trisman kemudian bisa timbul pertanyaan, dari manakah 160 surat suara ini?
Zul Trisman melanjutkan, akhirnya dari penjelasan Tim Verifikasi disampaikan bahwa setelah rapat tertutup dengan calon Ketua Umum maka temuan kelebihan surat suara 160 ini dicatat, disampaikan kepada floor untuk dicarikan jalan keluar terbaik.

23.20 : Presidium menawarkan pada floor untuk mulai diadakan penghitungan hasil pemilihan. Namun Pieter Latumeten menginterupsi dengan meminta agar panitia mengakui kesalahannya atas adanya perbedaan jumlah suara dengan jumlah pemilih. Selain itu Pieter juga meminta agar kasus ini dimasukkan di dalam berita acara Keputusan Kongres dengan demikian bisa membuka peluang semua kandidat untuk menyelesaikan (permasalahan) melalui Mahkamah Perkumpulan.

23.23 : Burhanuddin meminta agar kasus perbedaan 160 suara dengan daftar absen finger print itu panitia mengakui kesalahannya. Sementara itu dalam kesempatan berikutnya Bambang Heru Djuwito selaku Ketua Tim Verifikasi menyatakan jangan serta-merta menyalahkan pihaknya, seharusnya dibuktikan dulu bahwa kesalahan itu memang benar dari panitia.

23.31 : Penanggung jawab IT, pihak ketiga yang menangani IT menjelaskan cara kerja absensi dengan finger print. Sayangnya penjelasan pihak IT tidak begitu jelas bisa memberikan jawaban persoalan dari mana kelebihan suara 160 itu. Namun ada poin penting dari petugas IT yang menyatakan bahwa perbedaan itu bisa terjadi karena kemungkinan ada orang yang tidak melakukan verifikasi finger print. Hal ini terjadi kemungkinan akibat terjadinya peserta yang bergerombol crowded.

00.06 : Surat suara pertama mulai dibacakan untuk Herdimansyah. Selama penghitungan peserta menyimak dan sesekali berteriak saat calonnya disebut. Peserta lain ada yang bergerombol di koridor gedung. Ada pula yang tidur sekenanya di kursi-kursi.

04.10 : Pendukung Yualita sudah tidak sabar menjemput kemenangan setelah melihat suara di meja penghitungan tinggal sedikit lagi. Ketua Presidium meminta mereka bersabar sebentar sampai perhitungan selesai.

04.14 : Akhirnya jeritan pendukung Yualita memenuhi ruangan gedung begitu surat suara terakhir selesai dibacakan dengan keunggulan Yualita atas para pesaingnya.

05.44 : Zul Trisman melantik Ketua Umum INI yang baru Yualita Widyadari dihadapan puluhan peserta Kongres.
05.47 : Zul Trisman melantik Dewan Kehormatan Pusat yang masih tetap berada di gedung, yaitu Badar Baraba, Pieter Latumeten, dan Adrian Djuaini. Anggota DKP lainnya sudah tidak terlihat di ruangan Kongres, yaitu Arry Supratno, Isyana W. Sadjarwo, Habib Adjie, dan Chairul Anom
06.00 : Yualita menyampaikan pidato pertama sebagai Ketua Umum INI.
06.01 : Ketua Presidium Zul Trisman menyampaikan pesan terakhir Presidium sekaligus memohon maaf bila ada kesalahan selama pelaksanaan tugasnya.
06.02 : Pembacaan doa oleh Burhanuddin.
06.03 : Ketua Presidium Zul Trisman menutup Kongres INI ke 22 tahun 2016.



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Kirim Komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas