Judul Buku : Profesi Notaris dan PPAT ditinjau dari Perspektif Hukum Islam

Penulis: Indra Iswara.S.H.,M.K.n.

Ukuran Buku : 145 x 204mm

Jumlah Halaman:90halaman

Cetakan: Pertama 1 Syawal 1441H

Penerbit: Maktabah Muslim Sunni, Kediri, Indonesia, Untuk pemesanan buku silakan hubungi 0821-1691-0000 Harga (termasuk ongkir) : Rp 130.000,- Wilayah Jawa, Rp 150 wilayah Luar Jawa

Berdasarkan diskusi saya dengan Dr. Budi Santoso, S.H.,LLM.dari Program Pendidikan Doktoral di Universitas Brawijaya, Malang di mana saya saat ini menempuh ilmu, tercetus untuk meneliti profesi atau jabatan notaris/ PPAT dalam perspektif Hukum Islam untuk disertasi saya.

Akhirnya terwujudlah hasil pemikiran saya ke dalam buku sederhana ini yang nantinya menjadi titik awal (starting point) untuk menuju disertasi saya nanti. Bagaimana konsep Islam dalam mengatur perbuatan hukum manusia dalam melakukan perjanjian, termasuk akhirnya mengatur siapa yang bertugas sebagai pejabat yang menjaganya atau notarisnya, di dalam buku inilah Anda akan mendapat jawabannya.

Di dalam Al Quran Surat Al Baqarah 282 Notaris adalah sebagai Pencatat atas segala kepentingan para pihak di dalam akta, saksi di dalam akta Kalimat dan persaksikanlah dengan dua orang laki-laki[3]mengandung ketentuan bahwa dalam melaksanakan akad/transaksi dihadiri oleh 2 (dua) saksi laki-laki atau 1 (satu) saksi laki-laki dan 2 (dua) saksi perempuan adalah selaras denganasas unus testis nullus testis(satu saksi bukanlah saksi).

Di dalam surat An-Nisa ayat 58 disebutkan Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya secara adil...

Amanatatau amanah adalah sesuatu yang dipercayakan oleh orang lain untuk dilaksanakan. Notaris adalah jabatan kepercayaan. Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada orang Islam untuk menyampaikan amanat kepada yang berhakdan memberikan putusan adil terhadap sesama.

Di samping wajibtidak memihak, Notaris diberi amanat para pihak yang harus dijaga, yaitu merahasiakan segala sesuatu mengenai akta sesuai Pasal 16 ayat (1) huruf e UUJabatan Notaris. Jadi ayat ini secara tegas mewajibkan Notaris menggunakan wajib ingkar kepada pihak yang tidak berkepentingan.

Jika ayat ini dikaitkan dengan QS An-Nisa ayat (59), maka Notaris dapatmenggunakan hak ingkar ketika Hakim memerintahkan untuk membuka segala sesuatu mengenai aktakarena perintah Hakim adalah perintah undang-undang.Hal ini selaras dengan asas(Perintah imam/hakim/pemerintah terhadap rakyatnya didasarkan pada kemaslahatan)

Dalam konteks syarat-syarat dalam utang-piutang, seseorang yang bertugas sebagai notaris, sebagaimana persyaratan untuk menjadi juru catat di dalam aturan Al quran Surat Al Baqarah ayat 282 yang mengatur masalah utang-piutang disebutkan adanya unsur-unsur, diantaranya cakap, tidak dalam pengampuan berdasar kalimat keharusan adanya wali (waliyyu bil adl) atau pengampubagi orang yang tidakcakapmelakukan perbuatan hukumdisebutkan di dalam surat itu.

Menurut penelitian saya konsep profesi atau pekerjaan notarisditinjau dari Hukum Barat dan Islam adalah sama,dan tidak ada perbedaan secara umum karenanya dalam buku ini mengatur tentang kewenangan Notaris ditinjau dari Hukum Perdata dan Hukum Islam.

Kewenangan Notaris

Kalimat maka catatkanlah (faktubuh) di dalam surat Al Baqarah di atas mengandung perintah yang sifatnya anjuran kepada para pihak untuk mencatat/menulis perjanjian utang-piutang. Jika dikaitkan dengan kalimat setelahnya, yakni walyaktub bainakumkaatibun biladlmengandung maksud bahwahendaknya perjanjian dibuat secara tertulis di hadapan Notaris atau Pejabat Pembuat Akta Tanahdengan benar.

  1. Kalimat hendaklah dia menulis(walyaktub)mengandung perintah yang sifatnya anjuran bagi juru tulis(kaatab), dalam hal ini adalah Notaris untuk menulis perjanjian, dan isi perjanjian tersebut diwajibkan adil (bil adl)
  2. Dalam kamus Bahasa Arab, istilah notaris diterjemahkan dengankatib adlatau juru tulis yang adil ataumuwadzzaf tautsiq(pegawai yang melegalisasi/mengesahkan). Disebutkatib adlkarena notaris diwajibkan untuk menulis dengan adil dan tidak berat sebelah. Dengan demikian notaris merupakan salah satu profesi kehormatan yang disebut di dalam Al-Quran, sebagaimana profesi ulama (guru, dosen, peneliti, ilmuwan, dsb) dalam QS Al-Mujadalah ayat (11) yang artinya niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat

Kewenangan Notaris tersebut dalam Pasal 15 dari ayat (1) sampai dengan ayat (3) UUJabatan Notaris, yang dapat dibagi menjadi:

  1. Kewenangan Umum Notaris.
  2. Kewenangan Khusus Notaris.
  3. Kewenangan Notaris yang akan ditentukan kemudian

Islam Menjaga Marwah Notaris

Kalimat hai orang-orang yang beriman(yaa ayyuhalladziina aamanu)menegaskan bahwa subyek hukum yang dibebani perintah di sini adalah orang-orang beriman. Mukhatab(subyek hukum yang dikenai perintah/larangan), yakni orang yang dibebani hukum (disebut jugamukallaf) dalam ayat ini adalah orang-orang yang beriman.Mukallafterdiri dari manusia kodrati dan badan hukum (syirkah/persekutuan). Jadi, ayat ini disamping memerintahkan manusia kodrati yang beriman, juga memerintahkan badan hukum. Dalam masalah ini adalah Profesi Notaris Salah satu syarat untuk dapat diangkat menjadi Notaris menurut Pasal 3 UUJabatan Notarisadalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keimanan merupakan dasar dari ketakwaan, karena setiap orang bertakwa pasti beriman, tetapi tidak semua orang beriman adalah bertakwa. Jadi ayat tersebut berlaku untuk umum termasuk kepada Notaris, para pihak dan para saksi.

Yang mana sebelum menjalankan jabatannya wajib disumpah menurut agama dan keyakinan masing-masing dengan kalimat sumpah sebagai berikut sesuai dengan Pasal 4 ayat (2) Undang Undang Jabatan Notaris (UUJN).

Mengenai pertanyaan soal konsep amanah kalau menurut bahasa adalah bahasa Arab, konsep islamkah ini? Apakah amanah ini menjadi syarat jabatan notaris Barat?

Di Quran Surat An-Nisa ayat 58 Allah berfirman Sungguh, Allah meyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan jika kamu menetapkan hukum di antara manusia meka hendaknya dengan cara adil.

Amanatadalah sesuatu yang dipercayakan oleh orang lain untuk dilaksanakan. Notaris adalah jabatan kepercayaan. Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada orang Islam untuk menyampaikan amanat kepada yang berhakdan memberikan putusan adil terhadap sesama.

Di samping Notaris berkewajiban untuk tidak memihak, Notaris diberi amanat oleh para pihak yang harus dijaga, yaitu merahasiakan segala sesuatu mengenai akta sesuai Pasal 16 ayat (1) huruf e UUJN. Jadi, ayat ini secara tegas mewajibkan Notaris untuk menggunakan wajib ingkar kepada pihak yang tidak berkepentingan.

Mengenai konsep saksi dalam Islam disebutkan begini. Kalimat dan persaksikanlah dengan dua orang laki-lakimengandung ketentuan bahwa dalam melaksanakan akad/transaksi dihadiri oleh 2 (dua) saksi laki-laki atau 1 (satu) saksi laki-laki dan 2 (dua) saksi perempuan.

Selaras denganasas unus testis nullus testis(satu saksi bukanlah saksi). Konsep ini dipakai di hukum barat yaitu Dalam praktik, hukum acara perdata yang berlaku di lingkungan Peradilan Agama terkait dengan alat bukti saksi bersumber dari HIR, bahwa kesaksian seorang perempuan diakui memiliki nilai pembuktian yang sama dengan kesaksian seorang laki-laki

Anjuran adanya saksi dalam perjanjian-perjanjian, serta penegasan bahwaNotaris dan saksi bukan merupakan pihak dalam aktasejalan denganPasal 38 ayat (3) huruf cUUJN. Di dalam pasal disebutkanbahwa isi akta merupakan kehendak atau keinginan para penghadap sendiri, bukan keinginan atau kehendak Notaris, tapi Notaris hanya membingkainya/memformulasikannyadalam bentuk akta Notaris sesuaiUUJN.

Untuk pemesanan buku silakan hubungi 0821-1691-0000 Harga (termasuk ongkir) : Rp 130.000,- Wilayah Jawa, Rp 150 wilayah Luar Jawa



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Kirim Komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas