Diah Sulistyani Muladi

Dr. Diah Sulistyani Muladi, S.H.,Sp. N, M.Hum.
Dosen dan Notaris/ PPAT Jakarta Barat


Ikatan Notaris Indonesia adalah organisasi dengan level nasional mau tidak mau harus segera duduk bersama mengakhiri masalah dualisme kepemimpinan. Ini penting karena para anggota jangan sampai mewarisi permusuhan yang berkepanjangan. Pemimpin haruslah mempunyai semangat “MUNDUR UNTUK KEBAIKAN BERSAMA”. Jangan malu untuk mundur, karena kepentingan anggota dan kepentingan umum harus dikedepankan. BUDAYA MUNDUR UNTUK KEBAIKAN BERSAMA haruslah ada sebelum KLB di Bali, dengan filosofi “jabatan adalah sementara dan amanah dari Allah. Kalah bukan berarti tidak menang, namun masih bisa menjalin kerjasama dengan yang menang untuk kebaikan organisasi dan anggota bersama.

Seorang Pemimpin harus mempunyai kematangan sosial. Kematangan sosial ini meliputi kematangan moral, intelektual dan emosional. Dengan kamatangan sosial ini komunikasi dengan para anggota dapat terjalin dengan baik dan mampu menciptakan lingkungan organisasi yang nyaman bagi anggotanya. Selain itu, saat ini dibutuhkan seorang pemimpin notaris yang mempunyai semangat untuk memiliki rasa empati dan simpati terhadap berbagai kesulitan anggotanya. Pemimpin itu mampu bertanggungjawab menuju kearah masa depan organisasi dan nasib anggota yang lebih baik.

Cobalah untuk mengendapkan ego masing-masing dengan menyadari bahwa segala sesuatu tidak kekal di dunia. Pemimpin yang diharapkan saat ini adalah Pemimpin yang beretika, santun, dan rendah hati. Selain itu Ia diharapkan tidak menonjolkan kemewahan karena banyak anggota yang masih kesusahan dalam mencari rejeki, dan mampu mengayomi anggota yang sedang terlibat masalah hukum, serta tidak ambisius yang membabi buta. Yang terpenting juga, pemimpin harus mengedepankan Prinsip-prinsip GOOD GOVERNANCE DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE. Salah satu sikap yang harus dijalankan adalah, pemimpin harus jujur dan bisa mempertanggungjawabkan tugas yang sudah dilakukannya. Insya Allah kita semua akan selamat.

Hendaknya para anggota semakin cerdas memilih Ketua Umum, karena notaris adalah kelompok elit dengan tingkat kecerdasan intelektual tinggi, hebat dan mandiri. Jabatan terhormat sejak jaman Belanda ini hendaknya ketua umumnya dipilih dari orang yang mampu menyelamatkan organisasi kita tercinta ini. Saat ini saja masyarakat Indonesia sudah mulai cerdas memilih pemimpinnya, kita contohkan pemilihan Gubernur DKI Jakarta belum lama ini yang memilih Jokowi kemarin. Pemimpin dengan kharisma sederhana, santun, beretika, bersedia berkorban seperti inilah yang bisa dipakai acuan notaris untuk memilih Ketua Umum INI.

Kalau banyak orang yang menyesalkan kekisruhan di tubuh organisasi notaris, Ikatan Notaris Indonesia atau INI, salah satunya adalah Diah Sulistyani Muladi. Doktor dalam bidang hukum jaminan ini saat ini termasuk orang yang sangat gundah terhadap INI.

Sebagai putri nomor dua dari mantan Menteri Kehakiman RI Prof. Dr. Muladi, S.H., Liezty –nama panggilannya- pantas sangat prihatin dengan kondisi organisasi notaris yang Ia ikuti. Diah dari dulu diajarkan ayahnya tidak boleh memanfaatkan jabatan ayahnya, manja, malas, bermewah-mewahan dan bodoh.

Lantas apa hubungannya antara didikan ayahnya dan kondisi kisruh organisasi notaris dengan? Itulah dia. Menurut ibu tiga anak yang terdiri dua wanita, satu pria ini, siapa pun yang menjadi Ketua Umum INI harus menjunjung tinggi sikap anti KKN, melindungi anggota, menjauhi profit oriented, dan memegang prinsip good governance.

Itulah sebabnya cucu mantan Bupati Semarang dari keluarga Polri jaman dulu ini dididik keras dan disiplin oleh Muladi. Ketika Muladi menjadi Rektor Universitas Diponegoro dan Menteri Kehakiman, Diah atau Liezty dan 3 saudara kandungnya yang semuanya perempuan itu lebih sering naik angkutan umum atau taksi kalau bepergian. Bahkan mereka tidak boleh memanfaatkan fasilitas dan ajudan Bapaknya. “Kalau mau bepergian pesan tiket sendiri, naik taksi sendiri, tidak boleh dijemput ajudan, “ katanya. Untuk ini Muladi yang memegang sabuk hitam yudo dan karate ini mendorong Diah belajar beladiri. Sejak mahasiwa ikut Tae Kwon Do kini Ia menekuni olahraga boxing Thailand Muay Thai. Jadi, "Kalau ada yang menganggu kamu, sikat saja," katanya menirukan ayahnya yang pernah menjadi Ketua Forki itu.

Saat itu cobaan datang. Suatu malam –tahun 1998- Diah dari Bandara Soekarno-Hatta naik taksi ke rumah dinas ayahnya di Jalan Denpasar, Jakarta selatan hampir menjadi korban kejahatan . Namun naluri displin dan kemandirian yang diajarkan orangtuanya akhirnya membuatnya bisa mengatasi tindak kejahatan dengan membuat kecil nyali sopir taksi yang hendak berbuat kejahatan.

Soal larangan memanfaatkan jabatan dan KKN, Diah yang bersuamikan Notaris Syafran Sofyan ini mengenang masa lalu ketika ayahnya masih menjabat Rektor atau Menteri. Putri dari Hj. Nani Ratna Asmara ini sempat sedih karena ayahandanya selalu melarang keempat putrinya datang ke Jakarta kalau tidak terpaksa. “Saya sedih melihat teman-teman lain bisa ke Jakarta dengan bebas karena ayah melarang demi menjaga komitmen sebagai pejabat negara yang tentunya sangat luar-biasa sibuk, “ kenangnya.

Sudah barang tentu sebagai pejabat nomor satu Departemen Kehakiman, Muladi memiliki cara tersendiri dan terbaik untuk keluarga demi kemajuan dan keselamatan mereka masing-masing. Karena lingkungan Diah sangat dipengaruhi ayahnya yang gurubesar itu, anak-anaknya dididik untuk selalu menimba ilmu. “Sekolah,... sekali lagi sekolah, “ katanya. Tidak heran kalau Diah sudah bekerja di bank sejak tahun 1991 dan merangkap menjadi dosen tahun 1995 waktu di Semarang dengan ritme kerja mulai jam 6 pagi.

Tapi kini Diah merasakan didikan ayahnya membuatnya makin matang, mulai dari soal KKN, disiplin, kerja keras, mandiri dan berorganisasi. “Dulu ketika saya baru diangkat notaris, penempatannya adalah Semarang. Walau ayah saya Menteri, saya dilarang minta ditempatkan di Jakarta. “Dilarang KKN,” kata ayahya. Alhasil, Diah tinggal gigit jari saja waktu melihat ada temannya yang bisa ke Jakarta. Walau akhirnya Ia boleh pindah ke Jakarta tahun 2005.

Tidak kurang dari itu. Waktu Muladi menjabat Gubernur Lemhannas, Diah pun dilarang ikut pendidikan Lemhannas karena itu tadi, dilarang KKN...!!! Aduh piye iki, katanya. Padahal doktor hukum jaminan ini sangat ingin “sekolah” di Lemhannas, dan memohon-mohon ayahnya sejak tahun 2008. Ia sangat ingin belajar, dan bercita-cita ingin menunjukkan pada ayahnya, “Kalau saya bisa, pantang bagi saya dikatakan tidak bisa.” Sementara itu ayahnya berkilah, pendidikan 7 bulan di Lemhannas itu keras. Setiap hari membuat makalah dan presentasi.

Tentang pendidikan di Lemhannas itu, ayah Diah semula melarang karena tidak mudah seperti dibayangkan. Pendidikan Lemhannas menuntut performa fisik dan mental yang tangguh. “Setiap hari selama pendidikan 7 bulan lebih itu, saya kurang tidur karena membuat makalah dan mempersiapkan presentasi sampai dini hari. Setelah itu menggandakan hasil tugas ke Snappy jam 2 atau jam 3 pagi,“ katanya serius. Setiap tahun setidaknya yang ikut Lemhannas ada saja yang gugur karena berbagai sebab, terutama karena penurunan kesehatan, dan meninggal dunia.

Akhirnya Februari 2011 ketika ayahnya mendekati habisnya masa jabatan sebagai Gubernur Lemhannas, Diah diperbolehkan mengikuti pendidikan itu. Jadi kesibukannya bertambah super berat, di samping sebagai notaris Jakarta Barat dan juga mengajar di kepolisian, Lemhannas, Mabes TNI dan berbagai lembaga pendidikan pascasarjana lainnya.

Maka bila hari ini kita melihat Diah ke mana-mana menyetir mobil sendiri dan bahkan sampai malam hari, itulah hasil didikan dan semangat ayahnya. Pantang menyerah, disiplin, tidak memanfaatkan jabatan dan amanah, dan tidak KKN, serta tidak merugikan orang lain. “Saya tidak tahu bagaimana persisnya menjadi anak pejabat, sehingga ketika ayah saya bukan pejabat, saya tidak merasakan pengaruh apa-apa, “ kata kader Golkar di Departemen Hukum dan HAM RI DPP Partai Golkar ini. Di Golkar sebelumnya, Diah sebagai Sekjen Badan Hukum dan Advokasi DPP Partai Golkar.

Dengan profesinya sebagai dosen, notaris/ PPAT dan narasumber di Lemhannas RI sudah cukup sibuklah waktu Diah. Selain itu Ia juga sekarang menjadi dosen di Jimly School milik Prof. Jimly Assidiqie yang mahasiswanya berada di segala penjuru dunia karena salah satu kegiatan kuliahnya adalah kelas on-line. Tidak apa-apa, katanya, ini adalah untuk masyarakat. Saya akan bekerja dan memudahkan kehidupan rakyat agar nanti saya dan keturunan saya dimudahkan Allah.

Kini cita-cita besarnya hanya satu, yaitu mempersembahkan gelar gurubesar kepada orangtuanya, khususnya kepada ayahnya yang menilai anaknya dari hasil kerja dan belajar. Setiap hari irama hidupnya adalah bekerja dan belajar, serta mengurus keluarga. Sehingga dengan itu Ia tidak perlu berambisi apa pun di bidang lain, katanya sembari berharap kongres notaris di Bali dijalankan dengan cara santun, beretika, bermartabat, dan berbudi luhur.

Kalau pun ada cita-cita atau harapan yang ingin Ia gantungkan kepada Tuhan, Ia berharap anaknya ada yang mengikuti eyangnya menjadi anggota TNI atau polisi. Untuk ini Ia akan men-support sepenuhnya. Kalau pun di antara anak-anaknya tidak ada yang bisa menjadi anggota TNI atau Polri, Ia berharap calon menantunya nanti seorang anggota TNI atau Polri. Waduh.., kalau ini kedengaran para prajurit TNI dan Polri bisa berabe, salah-salah rumah Diah bisa banyak tamu dari TNI dan anggota Polri yang masih bujangan nanti...



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Kirim Komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas