Konferensi Wilayah Notaris Jawa Timur, atau Konferwil INI Jatim, sungguh menarik disimak bukan hanya karena menyimpan “sejarah” kerasnya persaingan perebutan pengaruh antar faksi di tingkat nasional saat Kongres IPPAT tahun lalu di Surabaya, yaitu “faksi status quo” yang bertahan pada kemapanan, faksi “terserah dipimpin dengan cara apa dan oleh siapa”, serta gerbong “faksi kereta api cepat”, yang berakhir dengan keunggulan “faksi kereta cepat”. Namun Konferwil INI Jawa Timur kali ini membawa pesan moral penting : apa sebenarnya tujuan berorganisasi, apa yang dicari dan apa yang sudah kita lakukan untuk orang banyak? Memenangkan jagonya, atau jagonya kalah, atau habis menang terus kalah, apakah membuat hati puas? Puas telah “mengalahkan” saudaranya sendiri. Lantas setelah itu apa yang bisa kita lakukan untuk organisasi dan untuk orang banyak?
Medianotaris.com ke Surabaya menemukan salah seorang kandidat yang prihatin terhadap proses dan dampak persaingan demi persaingan mulai dari Kongres INI atau IPPAT, Konferwil, bahkan konferda yang sering menyisakan kisah pilu akibat perseteruan untuk “memenangkan sesuatu”, sehingga melupakan hakikat tujuan organisasi itu sendiri. Dia adalah Mamiek Djatmiko atau Sri Wahyu Djatmiko, SH.
Berpijak pada tujuan anggota berorganisasi, tentu bukan cuma Mamiek seorang yang prihatin akibat proses demokrasi yang sebetulnya tempat belajar berkompetisi dan bernalar untuk memajukan organisasi. Tentu kandidat lain juga punya visi yang kurang-lebih sama karena mereka lahir dari rahim dan cita-cita yang sama.


Notaris yang berpengalaman di bidang litigasi dan dosen MKn di Surabaya ini menolak secara halus ajakan untuk “terlalu keras” bersaing, bahkan mengarah ke persaingan terang-terangan dalam Konferwil karena tidak ingin membuat orang lain tidak senang karena menurutnya semua notaris adalah temannya. Bahkan ada seniornya. Untuk itu dia hati-hati sekali agar tidak membuat orang lainnya marah, atau bahkan ia khawatir dianggap menyerang atau provokatif.
Mamiek pun ingin menunjukkan bahwa bersaing sebaiknya dengan cara sehat, kreatif dan melihat hakekat berorganisasi itu sendiri, yaitu untuk membangun rumah bersama dengan rukun. Menurutnya, untuk membangun rumah bersama, bila ada sebagian penghuninya tidak kompak maka rumahnya akan miring atau rubuh. Atau minimal rumah yang dicita-citakan tidak kunjung jadi seperti yang didambakan sehingga selalu ada masalah. Bila selalu ada masalah maka penghuni rumah tersebut tidak akan tenang atau rentan gangguan dari luar.
Untuk itulah Mamiek yang aktif di pengurus pusat ini lebih suka berbagi info, berbagi ilmu untuk meningkatkan kemampuan profesi notaris rekan-rekannya. Makanya waktu mengobrol dengan medianotaris.com, Mamiek berkali-kali membuka WA, bahkan menjawab telepon teman-temannya yang sedang meminta advis hukum dengan telaten. Ia pun menepis kesan orang lain bahwa dirinya memiliki agenda pribadi karena dirinya merasa sudah cukup dengan keadaan yang sekarang. Sehingga yang ada dalam pikirannya adalah berbuat untuk orang banyak.
Ia pun ingin membawa organisasi ini ke arah persatuan, selalu bersama-sama, dan berorientasi pada pembangunan mental-spritual, termasuk intelektual. Secara teknis, Mamiek ingin agar kegiatan organisasi ini -INI dan IPPAT- menjadi rapi, praktis serta sinergis karena dua-duanya adalah beranggotakan orang yang sama. Termasuk juga, dalam hal ini, kegiatan organisasi diusahakannya tidak hanya terpusat di Surabaya, selain untuk pertimbangan pemerataan juga dengan tujuan menggali aspirasi dan potensi daerah masing-masing. Pendek kata, ia ingin menjadikan organisasi sebagai rumah bersama yang tentram dalam mengembangkan kualitas diri sebagai notaris yang santun, profesional dan mandiri, berwibawa dan bermartabat seperti yang akhirnya memberikan bagi bangsa.
Dalam kondisi seperti ini maka notaris diharapkan memiliki kemampuan profesional, mandiri dan memiliki wibawa dan martabat seperti yang dicitakan dalam UU dengan selalu meng-up date info dan banyak kesempatan untuk belajar dan senantiasa mendapat kesempatan luas dan bebas dalam kegiatan organisasi.
Nah, menurut wanita cantik berpotongan rambut “Yuni Shara” yang selalu berpenampilan modis ini, kesemuanya ini akan berkaitan dengan upaya preventif terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran atau kelalaian profesional notaris dalam bekerja. Juga akhirnya meminimalisir masalah dalam keseharian karena anggota makin paham hak dan kewajibannya, serta perkembangan peraturan yang seharusnya dikuasai.
Jika notaris sudah makin profesional, makin minim kesalahan dan kelalaian, maka dirinya akan aman dan tenang dalam menjalankan tugas. Dia juga makin bisa konsentrasi, bahkan bisa berbagi ilmu pada masyarakat luas dan berbagi kebahagiaan sebagai bentuk pengabdian pada masyarakat. Untuk ini selain belajar sebagai upaya mengembangkan diri secara profesional, juga dilakukan upaya pencegahan terhadap masalah yang mungkin bisa dialami dalam bekerja. Hal ini dilakukan dengan membina kerjasama dengan penegak hukum,dan berbagai instansi yang terkait, serta memperkuat tim diklat dan pengayoman.
Sementara itu masalah transparansi pengelolaan organisasi juga mendapat perhatian khusus Mamiek. Di sini Ia ingin agar anggota bisa dengan mudah mengetahui perkembangan pengelolaan organisasi keuangan dengan standar akuntansi yang bisa dipertanggungjawabkan untuk saat tertentu, misalnya setiap bulan atau setiap ada acara tertentu.
Anggota, katanya, juga akan diberikan kesempatan mendapat pelayanan informasi -baik itu info kegiatan, info keuangan dan lainnya- secara baik, up date dan prima. Ini dilakukan dengan memanfaatkan segala upaya, termasuk dengan teknologi yang ada, supaya mudah dan cepat.
Sebelum mengakhiri pembicaraan, Mamiek membicarakan soal regenerasi yang menjadi perhatian khususnya. Dalam soal ini ia prihatin jika regenerasi dalam menangani organisasi tidak dipersiapkan, diabaikan, bahkan dihambat. Ia berprinsip, siapa pun yang punya kemauan berbuat untuk orang lain dalam organisasi, jangan dihambat atau dihalang-halangi dengan berbagai cara. Toh, mengelola organisasi itu tidak dibayar, tidak ada nilai keuntungan secara finansial. Yang ada hanyalah pengabdian pada anggota. Kalau dari kacamata notaris, aktif di organisasi itu tidak ada pengaruhnya terhadap jumlah akta yang didapatnya.
Bila organisasi ingin dijadikan sebagai organisasi yang kuat, regenerasi membutuhkan komitmen para senior, para orangtua untuk rela menyerahkan tongkat estafet pada orang lain yang lebih muda. Selanjutnya penerima estafet haruslah merangkul yang lain, yang notabene berbeda pendapat sekali pun, dan sebaliknya yang tidak menerima tongkat estafet haruslah tetap loyal pada yang menerima kekuasaan.Sikap dewasa seperti inilah yang sudah harus dibudayakan. Dalam konteks persaingan : siap kalah, dan siap menang.



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Kirim Komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas