…dalam berorganisasi janganlah kita berpikiran untuk memanfaatkan organisasi untuk kepentingan diri sendiri.
H. Bambang Irawan, SH, MKn
PPAT Tangsel, Banten
Ini tidak mengherankan, sebab selama beberapa bulan terakhir adalah masa-masa sulit buat organisasi yang anggotanya yang berjumlah 11.2005 orang ini. Sejak Pra Kongres Oktober di Jakarta, ketegangan di antara elit anggota muncul akibat adanya pihak yang tidak puas terhadap hasil verifikasi bakal calon ketua umum. Soal ini akhirnya menggiring pandangan masyarakat IPPAT bahwa organisasi ini sedang menghadapi masalah dalam pengkaderan atau suksesi, yang akhirnya akan mengerucut di Kongres IPPAT di Bandung 24-25 April 2014. Semula saya sulit menduga hasilnya bagaimana nanti malam pada 25 April. Saya tidak berharap kejadian Kongres Ikatan Notaris Indonesia di Yogyakarta akan berulang di Bandung. Namun ternyata firasat buruk saya terbukti : Kongres diisi debat kusir seperti tidak ada ujungnya, dan akhirnya Ketua Presidium menghentikan Kongres dan menyatakan akan diadakan Pra Kongres lagi 6 bulan ke depan. Mengecewakan memang, tapi kita tidak boleh larut dalam kekecewaan itu karena semuanya sudah digariskan Allah SWT : buruk atau baik hasilnya.

Untuk ini saya berharap agar kita kembali pada asal kita, yaitu sama-sama satu keluarga. Saya berharap agar seluruh anggota IPPAT kembali pada semangat kekeluargaan, di mana bahwa anggota IPPAT merupakan satu kesatuan utuh. Tidak perlu merugikan satu dengan lainnya. Jika kita mengikuti hawa nafsu semata di dalam berorganisasi maka kita tidak akan dapat apa-apa kecuali kerugian. Kerugian itu kalau tak tampak sekarang, bisa jadi nanti suatu saat akan terjadi. Sebab perhitungan Tuhan adalah pasti.
Dengan diadakannya Pra Kongres ulang 6 bulan ke depan untuk menjaring bakal calon lagi, saya tetap berharap siapa pun yang terpilih sebagai ketua umum nanti harus kita dukung dalam menjalankan organisasi nantinya. Sebab tanpa dukungan dan partisipasi anggota, ketua atau pengurus tidak akan ada artinya. Sudah barang tentu yang rugi adalah seluruh anggota.
Jadi tidak perlulah kita bermusuhan karena berbeda pendapat dan berbeda pilihan. Berbeda pendapat dan berbeda pilihan adalah rahmat Tuhan. Yang pasti, yang terpilih nanti adalah yang ditakdirkan Allah SWT untuk menjadi yang terbaik yang akan memberikan kemanfaatan buat seluruh anggota. Sebab, apakah kita mau marah atau mau senang, mau bilang rasain, lu yang kalah, calon Ketua Umum nanti adalah takdir Allah. Jika menyikapi perbedaan dengan cara negatif maka sama saja dengan mengingkari rahmat yang diberikan Tuhan. Jika kita mengingkari rahmat Tuhan maka tempat kita akan jauh dari Tuhan.
Saya ingin kembali pada niat kita berorganisasi. Sebagai anggota, niat kita berorganisasi adalah memberikan sesuatu yang baik bagi organisasi dengan tujuan untuk kebaikan bersama di dalam wadah organisasi. Di dalam organisasi, kita harus selalu berpikir bahwa kita memberikan sesuatu untuk organisasi, bukan malah berpikiran lain, yaitu malah membebani organisasi, atau bahkan merongrong organisasi.
Untuk itu, dalam berorganisasi janganlah kita berpikiran untuk memanfaatkan organisasi untuk kepentingan diri sendiri. Dalam tataran ekstrim, janganlah kita memanfaatkan organisasi untuk kepentingan pribadi, dan sebaliknya merugikan organisasi sehingga merugikan seluruh anggotanya. Ini keliru. Jika kita berpikir seperti ini maka tidak heran jika ada oknum yang melakukan segala cara demi mendapatkan jabatan di organisasi.
Akhirnya dengan niat berorganisasi seperti ini, yaitu memberi dan memberi, maka organisasi akan menjadi sehat dan kuat karena bebas dari rongrongan oknum anggota yang bersikap kurang baik dan merugikan seluruh anggota.
Saya juga berpesan pada diri kita masing-masing agar selalu ingat pada fitrah manusia yang semakin bertambah umur akan semakin tua dan suatu saat nanti tidak fisiknya sudah tidak berdaya dan tidak mampu melakukan apa-apa. Suatu saat nanti semuanya akan menjadi tua dan tidak berdaya dan kita semuanya seolah-olah seperti manusia tidak berguna karena tidak sanggup melakukan apa-apa.. Pada saat itulah kita baru sadar tentang apa-apa yang sudah kita lakukan. Saat tua nanti para pimpinan organisasi kita yang sudah tidak menjabat dan tidak berkuasa lagi bila masing-masing bertemu tentu akan berbeda perspektifnya. Saya yakin mereka akan punya perspektif lain dibandingkan dengan waktu masih berkuasa dan fisiknya kuat. Sehingga saat tua mereka dan kita semua akan mengingat kala masih berkuasa, masih kuat, bersaing dan mungkin sikut-sikutan demi ambisi. Namun dengan kondisi yang sudah tidak berkuasa, tidak mampu melakukan apa-apa, saya yakin kesadaran itu muncul, dan rasa penyesalan pun menghampiri selalu.
Dengan meneropong ke depan seperti ini, saya berharap agar kesadaran itu muncul saat sekarang masih sehat, masih berkuasa dan masih punya banyak harapan. Sehingga kesadaran introspeksi ini akan bermanfaat bagi organisasi dan orang banyak. Bukannya menyadari kesalahan setelah tua nanti yang tidak membawa manfaat bagi orang lain.
Saya berharap agar kita saling memberikan nasehat hal-hal kebaikan, bukan saling membantu dalam hal keburukan. Untuk itulah makanya sebaiknya saat ini perlulah kita introspeksi. Waktu akan berjalan sesuai zaman. Suatu saat para elit pemimpim akan menjadi tua, fisiknya tidak berdaya, kena stroke atau diabet dan mengalami pematangan jiwa, akan saling bertemu dan berkata : kita dulu pernah berseteru, saling memfitnah, mencurangi, berkelahi , mengapa tidak dari dulu saja kita berdamai saja, ya.