Abdul Syukur Hasan : Kongres Bukan Sesuatu Yang Menyeramkan

Sejenak dengan Abdul Syukur Hasan

 

Kongres Ikatan Notaris Indonesia (INI) makin dekat, 19 Mei 2016 di Kota Palembang. Atmosfer perjalanan menuju hari “H” makin memanas., baik di level elit maupun di akar rumput. Keseruan itu, salah satunya, nampak di media sosial on line facebook. Setiap hari tidak putus-putusnya di antara anggota ada yang mengumumkan dukungan pada salah satu bakal calon kepercayaannya. Namun tidak kurang dari itu, ada yang saling sindir, bahkan mulai “menyerang” walau secara tidak langsung ditujukan pada sasaran secara terang-terangan. “Perang psikologis” (psywar) pun tak terelakkan : mencibir, menyudutkan pihak lain sudah ada yang berani terang-terangan dan mengarah ke pelanggaran etika dan kesopanan bermasyarakat.


Di satu sisi, hal ini ada yang menganggap angin lalu dan dianggap sebagai hal yang lumrah di dalam demokrasi, tidak kurang juga ada yang khawatir terhadap situasi saling  kasak-kusuk  mengarah ke perseteruan.
Bakal Calon Ketua Umum Abdul Syukur Hasan, SH yang saat ini adalah salah seorang bakal calon Ketua Umum INI menganggap bahwa kongres adalah hal yang biasa, dan tidak diperlu dikhawatirkan. Saat ditanya medianotaris.com waktu acara ulang tahun  pernikahannya di Tangerang, Syukur menyatakan bahwa kongres sebaiknya dianggap sebagai sesuatu  yang menyenangkan sebagai ajang demokrasi, tidak perlu ditanggapi sebagai sesuatu yang menyeramkan. Dalam acara ini para senior berkesempatan memberikan contoh yang baik pada para yunior.
Syukur prihatin terhadap situasi yang menjurus pada hal yang tidak produktif pada perkembangan organisasi, saling menghina dan mencaci, yang dipertontonkan pada para yunior. Harusnya semua ini dilakukan dengan cara menyenangkan sesuai dengan koridor konstitusi.
Dalam acara ulang tahunnya dan ulang atahun perkawinannya dengan Aty Tanjung tentang kehadiran tokoh senior mantan Ketua INI Harun Kamil dan Tien Norman Lubis dan senior lainnya dalam acara  tersebut menurutnya sebagai upaya menghormati “orangtua”, bukan merupakan bentuk dukungan terhadap pencalonannya. “Pak Harun dan Bu Tien itu tidak punya suara, tidak mungkin mendukung saya, “ katanya menegaskan.
Sejumlah tokoh senior yang hadir dalam acara ulang tahun tersebut kata Syukur merupakan wujud silaturahmi antar senior dan yang lainnya. Dalam kaitan ini tidak ada pretensi apapun selain silaturahmi yang merupakan masalah pribadi dan masalah kekeluargaan. Sehingga ia pun mengundang semua bakal calon Ketua INI, termasuk Yualita, Firdhonal yang hari itu tidak datang.

Dalam acara ini Syukur berbagi bersama ratusan anak-nak Yatim dengan mengajak makan dan memberikan bingkisan uang.
Sedangkan mengenai sikapnya menghadapi pencalonannya tersebut, Syukur mengaku bekerja keras namun bersikap santai-santai saja, dan berkomitmen menggunakan cara-cara yang baik dalam menyambut kongres nanti.
Syukur adalah salah satu bakal calon yang muncul ke permukaan paling belakang. Ia tidak seperti yang lainnya yang sudah muncul ke publik, bahkan ada pula yang memublikasikan  diri terang-terangan baik itu dilakukan sendiri atau melalui pendukungnya. Namun karakter Syukur begitu kuat sehingga tampak dukungan dari publik sangat luas. Apakah ini karena posisi Syukur yang saat ini di “ring satu” PP INI atau bukan, wallahu ‘alam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top