Siapa pun yang memiliki leadership, tua atau muda, silakan saja mencalonkan Ketua Umum INI
Kemarin sore, 1 April, Arry Supratno menyatakan mundur dari persaingan untuk pemilihan calon Ketua Umum Ikatan Notaris Indonesia (INI) di dalam Kongres Luar Biasa (KLB) Mei mendatang. Pernyataan ini di sampaikan secara pribadi oleh Arry yang merupakan salah seorang mantan Ketua PK PP INI itu kepada K. Lukie Nugroho dari medianotaris.com di Jakarta.
Arry, saat Pra Kongres yang diselenggarakan PK PP INI atau PKK di Pekan Baru Desember 2012, merupakan salah satu calon kuat yang diusulkan untuk bersaing di KLB Denpasar, Bali, yang rencananya akan diselenggarakan pada 23 Mei 2013. Walau waktu kongres masih sekitar hampir 2 bulan lagi, diduga nantinya pencalonan Arry akan berjalan mulus karena, salah satunya, dukungan terhadap Arry sangat kuat bersaing dengan Adrian Djuaini. Namun hal ini tinggal catatan saja setelah Arry menyatakan mundur dari pencalonan itu.
Pernyataan Arry ini disampaikan pada saat organisasi ini dalam keadaan stagnan, tanpa ada perkembangan ke arah penyelesaian yang berarti. Bahkan boleh dibilang, kondisinya makin “menegangkan” seiring mendekatnya KLB di Denpasar. Sebab, dengan terjadinya KLB di Bali nanti, pihak yang berseberangan, yaitu INI yang dipimpin Sri Rachma Chandrawati akan mendapatkan saingan berat dari pengurus INI terpilih di KLB Denpasar. Artinya nanti pengurus INI akan ada dua.
Apa kata Arry, berikut penuturannya.
“Saya sudah tidak berminat lagi menjadi Ketua Umum INI, “ kata Arry yang pernah menjabat Ketua Umum Ikatan PPAT itu tegas.
Saat ini jabatan di dalam organisasi lebih banyak digunakan untuk kepentingan pribadi, untuk status simbol pribadi, popularitas pribadi, bukan untuk mengabdi pada anggota. Akibatnya kalau ada masalah bila ada masalah sedikit akhirnya digunakan untuk saling menjatuhkan, katanya.
Di INI, menurutnya, masing-masing insan organisasi bukan mengabdi pada organisasi, tapi mengabdi pada pribadi-pribadi. Sekarang ini iklim interen organisasi sudah tidak kondusif, dan juga iklim eksternal –yaitu pihak resmi yang melakukan pembinaan organisasi notaris- tidak mendukung. Ini mungkin akibat dari itu semua, akibat visi para pelaku organisasi notaris sendiri yang tidak kondusif. Pihak eskternal yang bertugas melakukan pembinaan organisasi notaris, Ia lihat sekarang pihak eksternal yang berwenang dalam kondisi enggan untuk mencoba membantu menyehatkan organisasi. Tidak ada upaya pihak eksternal yang resmi yang seharusnya melakukan pembinaan organisasi untuk membantu mencarikan jalan keluar. “Saya juga tidak tahu sebabnya mengapa pembina organisasi tidak mau berbuat, “ lanjutnya.
Arry berpendapat, tidak kondusifnya organisasi sekarang karena lebih dominannya visi pribadi sehingga terjadi konflik yang tidak habis-habis. Dengan kondisi yang stagnan ini maka pengurus organisasi akan lebih banyak disibukkan pada kegiatan pembenahan internal. Dengan demikian organisasi begini ini akan menciptakan para jago kandang, yaitu merasa hebat di internal, tapi untuk keluar ternyata tidak banyak menghasilkan sesuatu untuk kemajuan organisasi. Dengan kondisi organisasi yang stagnan ini, saya tidak mau membenamkan diri ikut hancur di situ. Contohnya adalah masalah SABH yang macet akibat konflik berkepanjangan sampai akhirnya Pemerintah memutuskan menarik kembali pelaksanaan SABH yang semula dilaksanakan bekerjasama dengan INI.
Menurutnya, siapa pun yang memiliki leadership, tua atau muda, silakan saja mencalonkan Ketua Umum INI. Mereka yang memiliki leadership bagus ini berilah kesempatan memimpin organisasi, walau misalnya, rezekinya kurang bagus. Yang penting dia punya komitmen mengabdi pada organisasi demi kemajuan profesi bersama. Walau mungkin dia dari notaris yang rezekinya biasa-biasa saja, tidak masalah, yang penting dia bisa mengelola dengan baik antara organisasi dengan profesinya secara pribadi.
Sementara itu Arry menyatakan menghormati mekanisme KLB mendatang di Bali yang merupakan sarana untuk mencapai pemecahan masalah. Ia menyebutkan hal ini karena KLB Denpasar merupakan kesepakatan yang sudah dibuat para ketua Pengurus Wilayah INI sesaat setelah meninggalkan arena Kongres Lanjutan di Balai Sudirman Jakarta, 16 Juli 2012.