Punya Gedung Sekber Milik Sendiri Sejak 2006
Keluhan mengenai kas keuangan organisasi bukan barang baru. Dari anggota yang tidak disiplin membayar iuran, pengelolaan keuangan organisasi yang tidak jelas dan tidak benar, sampai kas minus (zero-end) pada masa jabatan pengurus, bukan soal baru. Bali memberikan contoh bagaimana mengelola keuangan organisasi dan memberikan manfaat bagi anggota. Bukan membebani anggota. “Take and give,” kata Made Pria Dharsana, SH, MH.
Mereka pun punya gedung sendiri sejak tahun 2006 yang besarnya mungkin belum terkalahkan oleh sekretariat lainnya.
Saat ini Pengurus Wilayah Bali Ikatan Notaris Indonesia (INI) dan Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) atau Pengwil INI dan IPPAT Bali sedang bersiap-siap meresmikan pembukaan Perpustakaan yang mereka banggakan. Perpustakaan milik INI dan IPPAT Wilayah Bali merupakan swadaya anggota dengan koordinasi dan dorongan para pengurus yang saat ini dipimpin Ketua Pengurus Wilayah Bali Ikatan Notaris Indonesia I Gusti Ngurah Diatmika, SH dan Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah I Made Pria Dharsana, SH, MH. Perpustakaan ini merupakan hasil perjuangan seluruh anggota di bawah koordinasi mereka.
Di samping sumbangan pribadi-pribadi anggota, menurut Pria, perpustakaan ini juga disumbang oleh Pengurus Daerah di Bali masing-masing sekitar Rp 10 juta. Sumbangan ini kemudian dibelanjakan untuk sarana perpustakaan dan buku-buku yang diperlukan anggota bila ingin info mengenai hukum. Di ruangan perpustakaan yang masih ditata itu pun masih bertumpukan buku-buku yang masih baru dan menunggu pembaca.
Perpustakaan ini menempati salah satu ruangan di Gedung Serbaguna yang dibangun Pengurus Wilayah INI dan IPPAT Bali. Gedung ini sendiri dibangun sejak tahun 2005 di atas tanah sendiri seluas sekitar 300 meter persegi.
Sampai kini gedung ini sudah dimanfaatkan secara penuh untuk berbagai keperluan, termasuk pertemuan-pertemuan dalam rangka rapat organisasi, menerima mahasiswa dan tamu lainnya, bahkan menerima tamu Menteri serta anggota DPR.
Pria mengaku bahwa gedung ini sangat bermanfaat karena hampir seluruh kegiatan notaris, PPAT dan pengurus dilakukan di sini, termasuk pendidikan dan latihan bagi anggota. Sehingga pengurus dan anggota tidak perlu repot dan mengeluarkan biaya untuk sewa hotel atau gedung bila melakukan kegiatan. “Jadi, sejak kami memiliki gedung sendiri, kami selalu mengadakan rapat rutin di sini, dan tidak pernah di restoran atau hotel, kecuali ada tamu khusus,” kata Pria mantap.
Kebutuhan membangun gedung sekretariat bersama milik sendiri ini oleh pengurus merupakan salah satu keinginan untuk mengkomodasi makin banyaknya anggota INI dan IPPAT yang saat ini. Dulu ketika baru dibangun tahun 2006 anggota cuma 180 orang, sekarang berkembang menjadi 460 orang.
Jadi, menurut mantan Ketua Presidium Kongres IPPAT 2015 ini, dengan melakukan pertemuan-pertemuan di gedung sendiri maka dengan sendirinya organisasi bisa menghemat kas.
Mengenai uang kas, menurutnya, Bali sangat beruntung memiliki pengurus dan anggota yang berdedikasi pada kebersamaan. Keuangan mereka yang senantiasa “surplus” itu mempermudah anggota dan pengurus melakukan kegiatan untuk kepentingan bersama tanpa harus mengganggu kantong pribadi. Sebagai contoh, mereka mengirim dan mengutus sejumlah anggota untuk ikut kongres dengan biaya kas organisasi. Bukan main…! Contohnya adalah Pengda Kabupaten Badung mengirim anggota sebanyak 40 orang ke Kongres IPPAT Bandung 2014 dan ke Kongres IPPAT Surabaya 25 orang dengan biaya kas organisasi sekitar 200 jutaan.
Semua ini, menurutnya, merupakan hasil kekompakan dan kepedulian anggota dan pengurus untuk membayar iuran dan sumbangan sesuai dengan besarnya jumlah akta yang didapat masing-masing anggota. Kemudian pengurus melakukan dorongan dan koordinasi untuk melakukan pengumpulan. Akhirnya, contohnya, pengda-pengda di Bali sangat aktif melakukan kegiatan. Kalau ada diskusi, anggota tinggal hadir saja di gedung serbaguna. Pendek kata : semua dana kegiatan keluar dari kas pengurus daerah yang asalnya dari anggota sendiri (take and give). Termasuk juga kalau ada diskusi yang diselenggarakan Pengwil, anggota utusan dari daerah juga bisa dibiayai dari pengda. Ini seperti halnya bila Pengwil mengadakan acara, maka masing-masing Pengda menyumbang.
Nah, sebaliknya jika ada anggota memerlukan bantuan karena ada masalah, maka Pengwil akan turun membantu, mendampingi, termasuk ke kepolisian.
Selain itu gedung ini juga makin bermanfaat karena pengurus menyelenggarakan dan mendirikan lembaga pendidikan mandiri untuk kepentingan anggota. Sehingga memungkinkan mereka mengadakan acara pendidikan dan latihan secara rutin bagi anggota, maupun anggota luar biasa.
Gedung pertemuan sekretariat bersama INI dan IPPAT Bali berlantai 2 ini selama ini sehari-hari dikelola dengan baik oleh staf profesional yang terdiri dari 2 orang staf harian dan seorang staf sekretariat.
Rencananya peresmian perpustakaan ini akan dilakukan 3 Juli 2015 bertepatan dengan acara Konverwil IPPAT dan HUT INI ke 107. Pada acara ini pula akan diundang Ketua Umum INI dan IPPAT untuk meresmikan perputakaan Gedung Sekber INI-IPPAT Bali yang diberi nama Graha Yogis Svara.
Klik youtube di bawah ini untuk melihat gambar-gambar perpustakaan dan kegiatan Pengwil INI-IPPAT Bali.