Adakah pengaruhnya, antara menjadi anggota panitia dan tidak menjadi anggota panitia bisa berhasil atau tidak memenangkan persaingan dalam pemilihan? Ternyata dalam satu kasus, seorang calon ketua menjadi panitia penyelenggara ternyata berhasil menggalang dukungan suara terbanyak. Namun dalam kasus lain, tidak berhasil. Jadi, bisa jadi “hipotesa” ini tidak benar. Namun semuanya diserahkan pada alam pikiran masing-masing.
Dua Konferensi Wilayah IPPAT, yaitu Banten dan Pandeglang belum lama ini mungkin menggambarkan fenomena ini, mungkin juga tidak. Setidaknya pembaca bisa mengambil hikmah.
Konferensi Wilayah (Konferwil) IPPAT Jawa Timur pada Kamis (26/11) berhasil memilih Gatot Triwaluyo, SH sebagai Ketua Pengurus Wilayah IPPAT Jawa Timur untuk 3 tahun ke depan.
Dalam pemilihan yang dihadiri sekitar 450 lebih anggota yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur itu Gatot mengungguli Endang Sri Kawuryan, SH yang perolehan suaranya berkejar-kejaran saat penghitungan suara jauh meninggalkan peserta lainnya, yaitu Sitaresmi, SH dan Yustiana, SH. Sehingga akhirnya perolehan suara masing-masing, yaitu Gatot 230 suara, Endang 161, Sitaresmi 36, dan Yustiana 25 suara.
Suara Endang memang wajar kalau kuat di Jawa Timur karena namanya sudah sangat dikenal di daerah itu sebagai dosen magister kenotariatan di Universitas Brawijaya maupun Universitas Narotama. Boleh jadi, banyaknya suara yang mendukung Endang sebagian adalah bekas mahasiswanya.
Sementara itu agaknya para anggota panitia yang berbaju batik kuning itu terlihat mendukung Gatot. Hal ini terlihat ketika proses penghitungan suara secara sadar atau tidak,mereka menunjukkan teriakan-teriakan dukungan setiap kali suara Gatot bertambah.Sebaliknya ketika nama Endang atau yang lainnya disebut, mereka tidak meneriakkan dukungan. Menurut data yang diperoleh medianotaris.com. sekurangnya jumlah panitia adalah 129 orang. Sementara di daftar susunan panitia di bagian steering commitee tertera nama seseorang, yaitu Gatot Triwaluyo.
Dalam sesi lain, Konferwil juga berhasil memilih Majelis Kehormatan Wilayah yang dipimpin Habib Adjie, SH. Terpilihnya Habib merupakan kali kedua jabatannya di Majelis ini yang menunjukkan kharisma Habib di Jawa Timur sangat kuat untuk mengisi jabatan ini.
Sementara itu Linda S. M. Sahono, SH yang ditunjuk sebagai ketua panitia pelaksana Konferwil menyatakan bahwa pemilihan kepanitiaan adalah sesuai keputusan pembentukan oleh Pengurus Wilayah. Bila ada yang bertanya (mengapa ditunjuk pengurus sebagai panitia pelaksana) maka yang tahu adalah Pengurus Wilayah, tambahnya.Menurutnya, walau dirinya ditunjuk sebagai ketua pelaksana namun ia mengingatkan bahwa acara ini adalah gawe (hajat-red) Pengurus Wilayah sehingga dirinya hanya sebagai pelaksana saja.
Sementara itu di Kabupaten Pandeglang, Banten, pada 28/11, Konferensi Wilayah Banten justru memilih Harsono, SH dari Tangerang sebagai Ketua Pengurus Wilayah IPPAT Banten, Harsono mengungguli calon lain, yaitu Liza Priandhini, SH yang saat acara Konferwil ini bertindak sebagai ketua panitia pelaksana. Di dalam Konferwil ini walau Liza ketua panitia ternyata tidak bisa memenangkan suara pemilih yang datang karena agaknya pemilih yang hadir didominasi anggota dari Tangerang, basis asal Harsono.
Apakah di pemilihan-pemilihan lainnya,di daerah atau pusat, ada yang menerapkan “teori” ini untuk mendulang suara besar? Sekali lagi, hipotesa itu kasuistis saja. Ini menarik dikaji. Sehingga nantinya ada aturan-aturan. Namun sementara ini bisa dijadikan upaya penggalangan suara, walau tidak ada larangan. Selamat untuk Mas Gatot, Selamat untuk Mas Harsono, laksanakan janji waktu pidato kampanye sampeyan, dan dengarkan suara anggota, barangkali itu suara Tuhan.