Hadi Yusdiarto, SH, MH, MKn
Waktu peringatan HUT RI lalu terjadi kehebohan kasus “protes” menggunakan sepeda untuk menghalangi rombongan (motor gede) moge di Yogyakarta. Pemrotes tersebut melakukan hal ini karena sudah berkali-kali setiap tahun melihat peristiwa pelanggaran di jalanan ketika dalam iringan moge, namun dibiarkan. Akibatnya berbagai media di mana-mana memberitakan kasus ini.
Menurut Si Pemrotes yang menghadang rombongan moge dengan sepeda pancal di lampu merah, aksi yang dilakukannya merupakan klimaks dari protesnya. Hal ini sudah direncanakan sebelumnya setelah tahun-tahun sebelumnya menghubungi aparat untuk menyampaikan protes, namun tidak mendapat tanggapan. Sehingga, dalam wawancaranya dengan sebuah stasiun TV, Si Pemrotes menyatakan menegur langsung pelaku di lapangan dengan melakukan penghadangan karena aparat melakukan pembiaran.Selanjutnya muncul pendapat pro dan kontra dari pejabat kepolisian, anggota DPR sampai pejabat tinggi negara lainnya. Sementara itu masyarakat banyak yang mengecam rombongan motor gede karena dianggap arogan dengan melanggar lampu merah.
Berikut ini pendapat seorang anggota klub moge Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) yang juga seorang notaris asal Jakarta yang bertugas di Serang- Banten, Hadi Yusdiarto, SH, MH, MKn. yang waktu itu ikut dalam rombongan sebagai officer. Hadi adalah putra Notaris senior Jakarta Pusat Hj. Tintin Surtini, SH, MH, MKn (kandidat doktor).
Kami rombongan moge sudah dikasih izin dari Kapolri dalam rangka acara negara untuk memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Secara aturan, rombongan moge dan juga kawalan dari pihak kepolisian sebetulnya sudah diatur dalam peraturan lalu-lintas. Dalam hal ini pula kami mendapatkan pengawalan dari Mabes Polri.
Menurut kami, orang yang melakukan penghadangan hanya mencari sensasi. Buktinya, mereka mempersiapkan diri dengan kamera yang sudah disetel. Ini bertujuan mencari popularitas LSM mereka. Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa tahun lalu terjadi penghadangan oleh orang yang sama, tapi tidak menggunakan sepeda. Menurut kami, tindakan ini merupakan ekspresi kecemburuan sosial.
Bagi kami, komunitas moge, yang penting adalah bahwa kegiatan kami mendapat pengawalan resmi dari Mabes Polri melalui Polda Yogyakarta. Selain itu kami tidak merasa ada masalah karena sudah mendapat pengawalan pihak keamanan, dan peraturan lalu-lintas memang mengatur hal ini.
Dalam hal ini pula kami merasa tidak ada masalah karena banyak pejabat negara yang menjadi anggota klub moge ini Mereka yang membina kami adalah para pejabat yang berkompeten dalam masalah aturan. Yang perlu digaris-bawahi : bahwa kami selalu taat pada aturan, dan kami punya organisasi yang baik. Sehingga bila touring kami memiliki tatacara yang baik.
Dalam melakukan touring atau konvoi ada pembagian tugas, yaitu road captain, assistant road captain, officer dan sweeper.
Sweeper artinya penyapu, tugasnya melakukan pengamanan terhadap seluruh anggota dari depan ke belakang atau sebaliknya. Ini dilakukan untuk berjaga-jaga kalau ada anggota yang motornya bermasalah. Saya, dalam konvoi bertugas sebagai sweeper. Bila ada anggota yang tertinggal maka tugas saya menyatukan anggota yang tertinggal tersebut dengan rombongan. Sedangkan officer bertugas memantau rombongan kalau-kalau ada yang mengantuk dan kelelahan, kemudian ditemani.
Di organisasi HDCI ada aturan etika keanggotaan walau saya tidak hafal terperinci namun setahu saya ada aturan sopan santun di jalan, menjaga ketertiban lalu-lintas. Bila ada yang melanggaran maka akan ditegor. Perlu diketahui, HDCI memiliki motto : No Complain, No Accident Wow. Untuk itulah makanya kalau ada anggota yang melanggar berulang-ulang maka akan dicabut keanggotaannya. Saya pribadi, selama bergabung dalam klub motor besar sejak tahun 1996 ini saya tidak pernah dapat masalah.
Adanya motto ini menunjukkan keseriusan organisasi HDCI dalam menjaga tata-tertib lalu-lintas. Motto ini dibuat oleh Komjen (purnawirawan) Polri Nanan Sukarna yang merupakan pimpinan atau Ketua Umum HDCI yang anggotanya sekitar 5 ribu orang ini. Beliau di dampingi Mas Indro sebagai sesepuh.
Salah satu tata-tertib yang kami jalankan adalah soal kecepatan. Kami tidak boleh melanggar ketentuan ini.
Kegiatan yang kami lakukan ini sebetulnya merupakan hobi dan rekreasi bagi kami. Seperti orang lain memiliki hobi sendiri, kami pun memiliki hobi seperti ini. Bagi kami, memelihara HD seperti istri kedua. Menurut saya bila ada orang yang tidak suka melihat konvoi moge hal ini akibat psikilogis saja. Sebetulnya kami tidak merasa bangga dan tidak harus diistimewakan.
Memang dengan penampilan motor besar dan garang orang bisa melihat kami sombong, namun tidak begitu sebetulnya. (Kenyataan bahwa kendaraan HD seperti yang dipunyai Hadi yang jenis ultra classic ini, harga barunya cukup mahal, yaitu sampai 1,5 Miliar, bisa membuat orang iri. Menurutnya, jenis ultra classic yang baru, tersedia di dealer HD Mabua Pondok Pinang, Jakarta Selatan – red)