Redaksi mewawancarai satu per satu para pihak -sudah tentu yang bersedia dan terpilih- untuk menyampaikan argumentasi masing-masing sampai menjelang waktu kongres. Tujuannya adalah ditemukannya permasalahan yang sebenarnya, dan agar diidentifikasi masalahnya yang nanti akan menjadi bahan pelajaran untuk mendatang. Nantinya hasilnya bisa menjadi acuan para notaris, terutama yang masih muda-muda, untuk berorganisasi secara baik.
M. Islamsyah Arifin, S.H.
Wakil Ketua Pengurus Wilayah INI Banten
M. Islamsyah Arifin : saya berada di barisan depan waktu kongres. Saya tahu persis memang ada upaya menggagalkan kongres oleh pihak tertentu. Saya melihat, waktu panitia memerintahkan ruangan kongres dikosongkan maka kami tertib keluar dan kembali ke kamar masing-masing karena merasa hampir pasti menang. Pengosongan ini diperintahkan panitia guna persiapan pemilihan. Nah, ternyata kelompok mereka yang tidak senang dengan Rachma masuk ruangan dan makan di dalam ruangan sidang. Kabarnya mereka ditraktir makan oleh salah seorang notaris senior dan membuat diskusi sendiri di dalam ruangan kongres sementara peserta yang lain masih patuh untuk tidak masuk ruangan. Di dalam ruangan itu mereka kemudian menciptakan "mimbar bebas" dan melempar opini-opini dengan pidato. Lantas mereka memutar rekaman-rekaman berupa suara dan gambar yang mencekam yang memang sudah disiapkan. Suasana yang muncul begitu mencekam dengan suara-suara menakutkan dan gambar-gambar slide yang saya tidak ingat lagi apa isinya. Suasana ini mengingatkan saya seperti suasana aksi propaganda gerakan organisasi jaman Orde Lama. Dari sini kemudian kami sadar bahwa ini sudah dipersiapkan, tidak mungkin bisa kalau tidak ada permainan dengan penyelenggara. Suasananya urakan…Bukan suasana notaris.
medianotaris.com : selanjutnya apa yang terjadi?
presidium panik. Kemudian muncullah wacana deadlock.
medianotaris.com : menurut Anda apa sebetulnya yang melatarbelakangi wacana deadlock ini ?
deadlock maka yang menang adalah Sri Rachma karena calon yang lain sudah menyatakan mengundurkan diri. Mereka termakan oleh pernyataannya sendiri , yaitu mengundurkan diri dari pencalonan.
medianotaris.com : bagaimana caranya para calon ketua umum ini mengundurkan diri?
medianotaris.com : apa tujuannya menggagalkan kongres ini, bila itu memang benar dilakukan oleh pihak tertentu?
M. Islamsyah Arifin : tujuannya adalah supaya Sri Rachma tidak jadi. Saya dan anggota tim berhasil merekam pembicaraan di antara orang-orang tertentu itu dan saya mendengar suara-suara dengan istilah "kita (maksudnya : mereka) pasti kalah", dan "Rachma jangan sampai jadi".
medianotaris.com : katanya para calon itu mundur dengan syarat sampai soal money politic diselesaikan?
M. Islamsyah Arifin : tidak. Wacana itu muncul sekarang-sekarang ini saja, mungkin setelah melihat perkembangan bahwa Rachma sulit dijatuhkan. Tujuannya adalah membuka peluang kepada mereka agar bisa ikut lagi pemilihan karena sudah terburu-buru menyatakan mengundurkan diri. Ketika menyatakan mengundurkan diri di kongres mereka juga menandatangani pernyataan pengunduran diri itu di depan orang banyak. Sayang kami tidak lagi melihat surat
tersebut. Berita acaranya juga ada tapi sekarang tidak tahu dikemanakan.
medianotaris.com : mengapa muncul keributan-keributan ini sehingga pimpinan sidang menyatakan deadlock?
M. Islamsyah Arifin : ini ada unsur ekonomi dan juga politik. Saya melihat ada avonturir atau raja-raja kecil yang merasa nyaman duduk di pengurus pusat. Sudah tidak sehat. Sementara itu masalah keuangan organisasi masih perlu dipertanyakan. Masing-masing ada kepentingan pribadi, dan tidak bisa dikontrol.
Buktinya, sementara pengurus lama sudah demisioner, kok bisa-bisanya menjalankan kegiatannya seperti semula sebelum demisioner dengan berhubungan dengan lembaga negara dengan menggunakan sarana organisasi, seperti kop surat, atau melakukan kegiatan seolah-seolah masih menjadi pengurus.
medianotaris.com : mereka menggugat masalah money politic?
penting untuk pembuktian adanya ketidakberesan pelaksanaan kongres ini. Jika mereka tidak memberikan data-data itu, kita bisa tahulah bagaimana mereka itu. Misalnya, sampai kini kami tidak pernah diberikan nama peserta yang hadir pada kongres sesuai permintaan kami. Malahan terakhir, ketua panitia menyatakan tidak ada rekamannya. Kan, aneh…
Dipikiran mereka, panitia pelaksana, kami tidak akan komplain soal ini sehingga mereka melakukan ini semua.
Mereka menghembuskan isu money politic ini untuk menjatuhkan Rachma. Agenda utama mereka adalah penerusan estafet kepemimpinan pada orang-orang tertentu yang segaris dengan mereka. Jadi mereka ingin agar kepemimpinan INI jangan sampai jatuh ke tangan orang lain, yaitu Rachma.
medianotaris.com : menurut Anda kongres lanjutan di Jakarta akan ribut lagi?
M. Islamsyah Arifin : kalau kita jujur dan adil, kongres mendatang di Jakarta adalah statusnya adalah kongres lanjutan, yaitu melanjutkan kongres di Yogyakarta. Ingat lho, kongres di Yogyakarta dinyatakan deadlock dalam posisi calon ketua umum tinggal 1 orang, Sri Rachma. Yang lainnya sudah menyatakan mengundurkan diri dihadapan orang banyak.
Menurut saya, kongres lanjutan nanti bukanlah "pemilihan calon ketua umum". Yang dipilih siapa? Lha, orang calonnya tinggal 1. Kalau sampai agendanya adalah "pemilihan" tentu akan memancing perdebatan karena calonnya tinggal 1 dan nggak perlu pemilihan lagi. Yang kedua, jika kongres di Jakarta nanti dilanjutkan dengan agenda "pemilihan" berarti mempermalukan para calon ketua umum yang mundur. Kalau mereka dibolehkan maju, ya kasihan, jangan-jangan nanti dianggap menjilat ludah sendiri.
Jadi kalau calon ketua umum yang ada tinggal Rachma, itu kan karena mereka sendiri yang menghendaki dengan cara mengundurkan diri. Sehingga kongres lanjutan di Jakarta Juli ini agendanya mestinya tinggal menetapkan calon ketua umum yang tersisa, yaitu Rachma, karena yang lainnya mundur. Ini fakta karena waktu itu deadlock setelah seluruh calon ketua, kecuali Rachma, mundur.
Kalau fakta ini diingkari oleh kongres nanti, ya kita tahulah kemudian kualitas mereka seperti apa.