Mengurus Organisasi dengan Jujur, Jujur dan Jujur

  

Ani Aryani,SH, MKn
Notaris/ PPAT Tangerang Selatan, Banten

Ide dan cita-cita untuk menemukan konsep kepemimpinan organisasi tak habis-habisnya bisa didiskusikan dengan tujuan mendapatkan konsep dan bangunan kepemimpinan organisasi profesi yang ideal : memenuhi harapan anggota akan  kepemimpinan yang bisa dipercaya, melindungi dan menyejahterakan anggota secara langsung atau pun tidak dalam menjalankan profesi.

Notaris dan PPAT Tangerang Selatan Ani Aryani, SH, MKn adalah salah seorang anggota yang sangat peduli terhadap cita-cita untuk menemukan konsep kepemimpinan yang ideal. Bahkan ia merasa prihatin jika dalam praktek terjadi penyimpangan terhadap amanah yang diberikan anggota. Salah satu keprihatinan ditujukan pada soal bagaimana konsep kepemimpinan dalam mengelola administrasi keuangan.

Menurut saya organisasi profesi harus menjadi panutan masyarakat. Saya berkata demikian karena selama ini kita sudah disuguhi intrik-intrik yang kasat mata dalam proses perjalanan organisasi, terutama menjelang Kongres. Sebetulnya harapan saya selaku salah seorang pejabat umum yang mewakili negara, profesi pejabat umum -PPAT atau notaris- organisasinya dan para anggotanya juga harusnya  berperilaku sebagai panutan masyarakat. Mereka harus berperilaku baik, jujur, bisa dipercaya, tidak berbohong, tidak hanya janji-janji seperti waktu kampanye menjelang pemilihan di Kongres.
Di dalam mengurus organisasi hendaknya pimpinan organisasi profesi dan pengurus lainnya harus bisa merangkul semua pihak yang berbeda pandangan. Jadi, tidak ada istilah kelompok sini, kelompok sana. Kalau bukan kelompok sini nggak diajak, dan sebagainya.  

Dalam perjalanan organisasi, pengurus , mulai ketua sampai anggota pengurus haruslah senantiasa mendidik dan meningkatkan pengetahuan dan profesionalitas anggota, dan itu dilakukan secara gratis. Janganlah anggota ditarik kontribusi melulu, apalagi jika sampai uangnya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Sebaiknya pengurus menunjukkan kemauannya secara serius untuk mengelola keuangan organisasi agar organisasi bisa melakukan kegiatan-kegiatan, termasuk pelatihan anggota, dengan lancar dan baik. Sehingga kalau melakukan diklat atau refreshing tidak perlu membayar kontribusi lagi. Yang sekarang terjadi adalah, setiap refreshing selalu membayar. Membayar lagi, membayar lagi. Sebetulnya kalau pengurusnya memiliki kemauan baik, sebetulnya mereka bisa menghimpun dana tanpa harus memberatkan anggota, atau bahkan memberatkan orang-orang yang masih calon anggota. Cukup diambil dari iuran yang dibayar oleh anggota, atau dengan cara lain yang tidak selalu memberatkan anggota dari segi kontribusi.

Untuk itu hendaknya pemimpin dan pengurus organisasi profesi bersikap amanah, jujur, takut melakukan dosa. Dengan sikap pemimpin dan pengurus organisasi yang seperti ini diharapkan mereka akan berpikir seribu kali jika ingin menyalah-gunakan jabatan yang dimilikinya. Misalnya menyalah-gunakan posisinya untuk kepentingan diri pribadinya.

Pemimpin dan pengurus organisasi ini diharapkan melakukan tugasnya untuk memakmurkan anggotanya, bukan memakmurkan dirinya sendiri.
Akhirnya kita harus ingatkan para pimpinan dan pengurus organisasi profesi  untuk jujur, jujur dan jujur. Sebab,  para anggota  tahu kalau uang yang masuk ke kas pengurus organisasi, dari berbagai pos, itu banyak sekali berdasarkan hitungan jumlah anggota yang belasan ribu itu. Singkatnya, uang anggota seluruh Indonesia yang masuk kas organisasi itu banyak sekali.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top