Pimpinan IPPAT Bisa Di Musuh Saya

Harus Berani, Cerdas, Jujur, dan Tidak Harus Dekat Pejabat


Badar Baraba, S.H.

<iframe width="460" height="280" src="//www.youtube.com/embed/L1A9OopojOk" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>

Notaris dan PPAT senior Badar Baraba, SH menyampaikan pandangannya soal rencana Kongres Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) mendatang di Bandung pada tanggal 24 April 2014. Kongres IPPAT mendatang diduga menemui jalan terjal karena sebagian elit organisasi PPAT tidak setuju dengan hasil Pra Kongres sebelumnya di Jakarta soal verifikasi bakal calon Ketua Umum IPPAT. Sementara itu penyelenggara Pra Kongres menyatakan bahwa verifikasi bakal calon Ketua Umum IPPAT sudah sesuai aturan.
Bagaimanakah pendapat Badar yang juga sesepuh Ikatan Notaris Indonesia ini soal pelaksanaan Kongres, sampai soal kriteria calon Ketua Umum IPPAT mendatang yang dibutuhkan dalam situasi sekarang?


Medianotaris.com : apa sebaiknya yang harus dilakukan seluruh anggota IPPAT, menyikapi tentang masih adanya pihak pengurus PPAT yang menggugat hasil verifikasi di Pra Kongres?


Badar Baraba : nanti di Bandung tangal 24 April Kongres harus dilaksanakan, dan harus ada keputusan. Tidak ada deadlock, meski keputusannya deadlock.
Mengaca dari kasus kongres Ikatan Notaris Indonesia tahun 2012 terjadi deadlock karena keputusannya tidak diserahkan pada anggota. Dalam hal ini mesti disadari bahwa yang disebut “pengurus wilayah” adalah “presidium” yang fungsinya hanya penyelenggara sidang. Bukan pengambil keputusan. Tidak lebih. Jika (masalah yang menemui kebuntuan – red) sudah dilempar ke floor, dan ternyata floor masih tidak karuan maka segera putuskan. Harus dihasilkan keputusan segera saat itu.
Dalam hal ini, apakah kita masih anak-anak, apakah kita taman kanak-kanak, apakah kita anak SMA, apakah kita memang orang bergelar pascasarjana, atau kita rapatnya jegger (preman-red), nanti akan terlihat.
Untuk itulah saya berharap semuanya mempertahankan harkat dan martabat dirinya. Selanjutnya, apa yang Anda lakukan itulah nanti yang akan dinilai orang, dan nama Anda akan diwariskan kepada anak Anda. Sehingga suatu saat anak Anda akan tahu kelakuan yang pernah kita perbuat. Misalnya, jika seseorang dikenal sebagai perusuh, maka suatu saat anaknya akan dikenal orang sebagai anaknya perusuh. Maka dari itu setiap orang wajib mewariskan nama baik dan kebanggaan buat keturunannya.
Walau saya tidak dalam kapasitas menilai kepengurusan IPPAT yang sebentar lagi mengakhiri tugasnya, saya melihat bahwa kepengurusan IPPAT dalam situasi memrihatinkan. Saya prihatin karena rasa kebersamaan anggota sangat kurang sehingga terjadi pergesekan dalam interen organisasi. Sementara itu organisasi juga tidak punya wibawa di luar organisasi.
Soal verifikasi, saya melihatnya bahwa verifikasi hanya “alat”. Verifikasi bukan pemutus, sehingga bentuknya adalah rekomendasi. Sehingga dia boleh menghilangkan orang dalam pencalonan, tapi dalam bentuk rekomendasi yang nanti dibawa ke kongres. Saya ingin tahu, mana peraturan yang menyatakan tim verifikasi bisa memutuskan laju pencalonan seseorang (cut-off)?
Saya melihat bahwa saat ini kondisi IPPAT sedang memanas, terjadi pergesekan. Saya melihat hal itu dari adanya pergesekan ketika Pra Kongres di mana pengurus tidak bisa menguasai Pra kongres sehingga terjadi protes-protes. Tapi kalau kita memegang konstitusi, maka kongres merupakan institusi terakhir dalam memutuskan.

Medianotaris.com : tak bisa ditutup-tutupi lagi, kongres IPPAT nanti akan melalui terbing terjal. Apa pendapat Anda?

Badar Baraba :
saya masih menganggap bahwa anggota INI atau IPPAT adalah sekumpulan orang-orang cerdas. Di dalam kongres, segala sesuatu bisa terjadi. Tetapi kalau terjadi berulang (seperti kongres INI-red), rasanya nggak-lah. Keledai saja tidak mau jatuh di lubang yang sama. Apala lagi kita ini kumpulan makhluk cerdas. Sudah cerdas, beretika lagi. Kalau tidak demikian, jangan katakan bahwa Anda lulusan S-2.
Sudah saatnya semua pihak belajar dari pengalaman, memperbaiki diri, dan semua pihak menjadi pemenang. Yang menjadi pemenang adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya, tetap on the rule konstitusi organisasi.


Medianotaris.com : kalau begitu orang yang bagaimana nantinya tepat untuk memimpin IPPAT?


Badar Baraba
: menurut saya kriteria pimpinan IPPAT mendatang adalah siapa saja. Dia bisa teman saya, sahabat saya, atau bisa di (lingkungan – red) “musuh” saya. Saya tidak peduli. Tapi dia harus cerdas, pemberani, dan jujur.
Kalau dia cerdas dan berani, maka dia berani mengcreate (menciptakan kreasi-red) organisasi dengan baik dan bisa berbeda. Kalau perlu, ia bisa melakukan prinsipnya dengan ektrim karena ia yakin dengan apa yang dia lakukan. Ia harus berani melakukan dan melaksanakan apa yang menurutnya benar. Kalau seorang ketua tidak berani menjalankan prinsipnya dan keyakinannya, maka organisasi tidak bisa ke mana-mana.
Berbeda dengan di Ikatan Notaris. Di Ikatan Notaris yang diperlukan adalah kecerdasan dan kebijaksanaan karena “airnya tenang”. Karena “airnya tenang” maka Ikatan Notaris tidak perlu nakhoda pemberani. Yang diperlukan di Ikatan Notaris adalah “safety”.
Tapi kalau situasi organisasi IPPAT sedang begitu (airnya tidak tenang) maka perlu pimpinan yang berani. Kalau perlu bermanuver, putar haluan dengan cekatan. Sehingga yang penting, organisasi mencapai tujuannya.
Saya berbeda dengan orang lain yang mensyaratkan seorang pimpinan IPPAT harus dekat dengan pejabat. Saya tidak perlu orang yang dekat dengan pejabat. Tapi dia harus berani dengan pejabat. Sehingga dia punya posisi tawar dengan pejabat. Mengapa demikian? Karena pejabat bisa pensiun atau pindah kapan saja. Menurut saya, orang bisa mati. Tapi pemikiran tidak bisa mati.
Saya tekankan sekali lagi, kita perlu pimpinan IPPAT yang berani membawa dan mengadu dengan konsep-konsep. Pimpinan IPPAT haruslah orang yang punya pikiran dan idealisme yang baik. Dengan demikian ia di dengar, duduk setara dengan siapa pun. Bukan merendahkan dirinya, menjilat-njilat atau mengemis. Dia harus memiliki posisi tawar yang kuat, karena organisasi IPPAT besar.
Syarat berikutnya pimpinan IPPAT adalah tidak harus kaya, tapi tidak miskin hatinya. Selama tidak miskin hatinya, dia tidak berharap dan tidak menjual jabatannya.
Selain itu syarat lain adalah “kejujuran”, karena hanya orang jujurlah yang bisa kita percayai.
Kita boleh beda pendapat, berlawanan atau berseberangan. Tapi harus duduk sama-sama ketika ada kepentingan bersama. Itulah demokrasi. Di dalam forum sidang atau diskusi kita boleh keras memegang prinsip dan pendapat dengan santundan berbeda dengan tajam, tapi di luar forum tetap sahabat. Inilah bentuk kedewasaan. Jika pertentangan di forum dibawa-bawa di luar forum maka itu namanya adalah “kekerdilan”. Kita juga harus santun dalam forum karena kita bukan organisasi preman.
Saya juga ingin tegaskan sifat “berani” seorang pimpinan IPPAT mendatang. Dia harus berani sehingga organisasi tidak menjadi underbouw BPN, meski pembinanya adalah BPN.
Kemudian, dalam situasi IPPAT yang sekarang ini sedang mengalami “perbedaan tajam“ ini maka diperlukan sikap untuk sama-sama memegang konstitusi yang menggariskan bahwa kongres adalah forum tertinggi dan terakhir untuk menyelesaikan semua masalah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top