Berzikir di Atas Motor
Rekreasi Anriz agak berbeda dengan kebanyakan notaris. Notaris Jakarta Barat ini punya jadwal liburan akhir pekan dengan komunitas pemilik motor besar dan pemilik jip. Khusus motor besar, notaris yang juga dosen ini, bergabung dengan klub motor besar Silver Hawk yang berada di Jakarta Selatan.
Nama sangar Silver Hawk tergambar kental ketika kita memasuki markasnya di daerah Jeruk Purut, Jakarta Selatan ini : jaket kulit dihiasi asesori besi dan rantai, sepatu boot, bros, foto-foto sampai bendera. Silver Hawk yang diikuti Anriz merupakan organisasi elit penggemar motor besar yang dikelola dengan baik : berbadan hukum, memiliki pengurus dan organisasi yang jelas, bahkan memiliki aset berupa tanah dan gedung sendiri! Di markasnya inilah mereka mengorganisir kegiatan mereka setiap akhir pekan di bawah pimpinan seorang Presiden : President Director PT Silver Hawk Indonesia. Kebetulan saat ini Presiden Silver Hawk adalah seorang pria muda bertubuh atletis, MG. Welly Oka.
Untuk masyarakat Indonesia, bentuk badan hukum bagi sebuah organisasi hobi bisa dipandang berlebih-lebihan. Namun itulah kenyataannya. Menurut Anriz, badan hukum –berupa PT- dan juga pengelolaan organisasi secara baik, merupakan keniscayaan dalam masyarakat moderen. Dengan adanya bentuk badan hukum ini akan membuat semuanya serba jelas dan bisa didorong untuk berkembang dengan baik. Dengan badan hukum, tanggungjawab para anggota akan jelas, dan perkumpulan juga menjadi maju karena dikelola dengan baik. Maka dari itulah tidak heran kalau Silver Hawk memiliki anggota di Asean dan negara lainya.
Selain Presiden, Silver Hawk juga memiliki Sekjen, Deputi, Penasehat, Pengawas, dan lain-lain. Mereka memiliki ruangan yang komplit, mulai ruang rapat, ruang Presiden, sekretariat, bar, bahkan sampai bengkel. Untuk tugas deputi, masing-masing ada yang menangani touring, keuangan dan legal. Kebetulan saat ini Anriz adalah Head Legal Silver Hawk pusat.
Silver Hawk beranggotakan pemilik motor dari berbagai macam merek mulai dari Harley Davidson, BMW, Kawasaki, Goldwing (Honda) dan lain-lainnya. Beda dengan perkumpulan Harley Davidson (HD) yang melulu kumpulan motor Harley, keanggotaan Silver Hawk dengan berbagai motor memungkinkan jelajah medan lebih luas dan variatif. Sebab merek-merek motor selain HD, memiliki karakter beragam termasuk mampu melakukan jelajah off road. Seperti misalnya BMW Adventure yang sanggup berjalan dan meloncat di gunung-gunung, kubangan dan sungai. Sementara dengan HD, pengemudi akan kesulitan, karena karakter HD tidak tepat untuk jalanan off road. Tapi lebih tepat untuk jalan mulus, katanya.
Namun, soal Harley Davidson, menurut Anriz, anggota perkumpulan motor belumlah afdol kalau tidak memiliki HD. Apalagi, menurutnya, karakter HD menuntut pengendaranya untuk terampil menyetir dengan segala situasi karena sulitnya mengendalikan motor ini. Jadi, menurutnya, kalau HD meluncur di jalanan maka sebetulnya yang bagus atau “jago” adalah pengendaranya karena bisa “menjinakkan” motor asal Wisconsin, Amerika ini. Sementara itu motor lain, misalnya, Honda atau BMW justru yang bagus adalah motornya. Sedangkan pengendaranya tak perlu jago untuk menyetir motor.
Anriz –notaris berdarah Jawa-Palembang ini- senang mengikuti organisasi ini sebagai sarana rekreasi dan juga untuk memperluas hubungan pertemanan. Di antara anggota Silver Hawk yang aktif ada yang berstatus perwira tinggi TNI, yang ketika wawancara berlangsung, hadir mengikuti acara pagi itu. Apakah fungsi lain organisasi ini untuk gagah-gagahan, menyombongkan diri atau ugal-ugalan? Tidak.
Anriz mengkritisi para pemilik motor besar yang arogan dan seolah “menguasai” jalanan umum sehingga mengganggu kenyamanan dan keamanan lalu-lintas umum. Harusnya para penghobi motor besar tahu bahwa jalan umum adalah milik bersama yang dibangun dan dirawat dengan uang negara yang berasal dari rakyat. Malahan sebetulnya para anggota klub motor besar memberikan contoh yang benar dalam berlalu-lintas, sopan-santun dan menghargai orang lain, katanya. Sebagai contoh dalam acara touring, jika iring-iringan motor mereka akan menyalip kendaraan masyarakat sebaiknya memberikan tanda sebagai cara “permisi” untuk menyalip.
Sebaliknya bila ada anggota yang menyalahi aturan dan tidak tertib dalam iring-iringan biasanya ditegur oleh pengawas, dan disuruh pindah ke barisan belakang iring-iringan. Ini penting, karena tindakan tidak tertib akan membahayakan orang lain, diri sendiri, bahkan membahayakan reputasi klub. Dalam kasus iring-iringan bila ada yang jatuh satu, kemungkinan akan membuat motor yang lain jatuh juga.
Brother, Tidak Saling Merendahkan
Aset berupa tanah 500 meter persegi dan bangunan yang dimiliki Silver Hawk di kawasan Jeruk
Purut, Cipete itu merupakan salah satu wujud seriusnya organisasi penghobi motor besar. Mereka membentuk organisasi “serius” dalam bentuk PT yang dibadanhukumkan tahun 2005. Di sini organisasi ditata sedemikian rupa baik mulai dari susunan pengurus, keuangan, sampai kegiatan. Menurut Anriz, pengorganisasian klub motor juga mutlak diatur dengan serius dengan aturan yang baik karena kegiatan-kegiatan mereka bisa kompleks, apalagi jika mereka mengikuti acara touring di luar negeri, misalnya di Amerika Serikat atau Kanada baru-baru ini. Di klub ini juga ada bisnisnya yang sudah tentu berhubungan dengan motor.
Para anggota Silver Hawk yang jumlahnya ratusan itu berasal dari berbagai latar belakang, mulai pejabat tinggi, jenderal, pengusaha, dan juga notaris, seperti Anriz. Mereka memiliki aturan dan kode etik dalam berkegiatan yang dijalankan dengan konsekuen, tanpa meninggalkan sisi kerukunan. Ia melihat bahwa intelektualitas serta status di sini ditempatkan dengan baik oleh masing-masing anggota sehingga hubungan mereka sangat baik dan rukun. Ego, pamer status, sentimen pribadi atau hal-hal lain yang kurang baik, senantiasa dihindari oleh masing-masing anggota. Mereka menempatkan diri mereka sebagai “brother” atau saudara. Jadi tidak ada perbedaan, saling merendahkan satu sama lain.
<iframe width="450" height="390" src="//www.youtube.com/embed/GL3OMfD_MpM" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>
Menurutnya untuk mencegah diri kita agar tidak terjerumus ke dalam hal yang sia-sia seperti itu, salah satunya, adalah dengan berusaha menjadi orang baik dengan selalu meminta petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa, meminta Tuhan agar memberikan ketakwaan, meminta perlindungan Tuhan dari gangguan orang lain atau makhluk apa pun, dan meminta Tuhan agar dicukupkan rezeki.
Sehingga akhirnya Anriz senantiasa berzikir ketika touring di atas motornya dengan membaca pujian-pujian kepada Allah SWT. Ketika akan berangkat touring ia pun ayat suci Al quran. Dengan begitu ia merasa percaya diri sekali walau mengendarai motor dengan segala medan dan cuaca.
Ritual ini selalu dijalankan Anriz ketika akan dan sedang mengendarai motornya karena ia yakin bahwa sebagus apa pun kendaraan dan pakaian yang dipakai pengendara, si pengendara sangat rentan dari bahaya. Doanya merupakan upaya mohon perlindungan Tuhan yang tidak ada siapa pun yang menghalangi jika dikabulkanNya.
“Budaya” Anriz mengendarai motor gede ini agak berbeda dengan image miring terhadap komunitas motor besar yang sering kita lihat, misalnya tato, minuman keras dan lainnya. Ia mencoba touring dengan tanpa meninggalkan syariat agama. “Saya merasa sudah berumur, dan sudah seharusnya mulai meninggalkan hal-hal yang melanggar aturan agama. Dengan selalu mencoba mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Kalau pun celaka di jalanan, maka kita akan dijaga dengan kesabaran, “ katanya.