Otty H. C. Ubayani
Selamat pagi, Otty… Hari ini acaranya apa saja, di mana saja? Begitu bunyi sapaan telepon dari seseorang di seberang sana.
Yang disapa pun menjawab, “Wah, nanti dulu ya, saya cek jadwal saya hari ini. Memang hari ini saya ada beberapa agenda. Diantaranya adalah “pengikatan” untuk klien di Jakarta Selatan.” Sebentar ya, saya cek melalui sekretaris saya, tambahnya. Otty pun menjawab, “Oke, kita ketemu nanti jam 3-an di sekitar Semanggi, ya.” Ia menyebutkan salah satu tempat favorit di Jakarta untuk bertemu dengan relasinya sambil makan.
Tapi jangan salah, notaris alumni kenotariaatan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro ini tidak sedang akan menemui klien untuk tandatangan akta sebagai notaris. Otty kali ini sedang memanfaatkan waktu makan siang dan istirahatnya untuk bertemu rekan bisnisnya di bidang fashion dan cafe. Di luar waktu sempitnya menangani kantor notarisnya, Otty mengendalikan bisnis fashion di bawah bendera OH Boutique. Beberapa orang asistennya menangani roda bisnis OH Boutique yang berkantor di sebuah kawasan di Jakarta Selatan. Sementara itu karyawannya yang lain menangani bisnisnya comunitas café di fatmawati dan portal online dan beberapa staf menangani 7 organisasi dimana Otty menjadi pengurusnya. Anehnya dia memilih keluar menjadi pengurus di PP IPPAT dan PP INI versi SRC alasannya “organisasi yang dia ikuti harus sesuai visi dan misinya dan tidak bertentangan dengan hati nuraninya”.
“Mau ikut nggak ke rumah saya yang di Pondok Labu? Besok saya mau ada sesi pemotretan model saya yang baru,” katanya pada suatu kesempatan dengan bersemangat. Oh, rupanya Otty baru saja menemukan model untuk fashionnya belum lama ini. Penasaran…, pasti bikin surprise.
Betul, ternyata model yang disebutkan Otty adalah seorang pemuda berumur 22 tahun dan suaranya bagus pula kalau menyanyi. Yang rada mengejutkan, ternyata sang model sehari-harinya adalah anggota polisi.
“Sesungguhnya…”, Ceileee… pakai bahasa teramat “dalem” lagi, kata Otty memulai pembicaraan dalam perjalanan menyusuri jalanan Jakarta di atas Alphard-nya esok harinya, profesi notaris bagiku adalah profesi “terpaksa”.
Nah, lho…?
“Ya, betul dulu orangtuaku “memaksaku” menjadi notaris suatu saat nanti. Mungkin orangtuaku melihat profesi notaris sangat “menjamin” kehidupan materi dan menjadi amtenar. Sehingga akhirnya kini berarti keinginan mereka terkabul.
“Oh, begitu ya?
Ya, sehingga aku waktu itu nggak lama-lama kerja di Bank sebagai petugas legal. Padahal asyik, lho, sebetulnya bekerja di Bank waktu itu. Aku bisa melakukan tugas survai jaminan, taksasi jaminan, loan agreement sampai bikin legal opinion. Nah, dari sini aku mulai kenal notaris karena mau nggak mau sehari-hari aku berhubungan dan mondar-mandir ke kantor notaris. Makanya kemudian akhirnya aku kepincut dunia notaris.
Tapi -sumpah…. – kini aku menemukan keasyikan tersendiri, menemukan passion yang amat sangat di dunia notaris. Di profesi ini aku menemukan kemandirian. Terus, yang paling asyik adalah waktunya. Notaris tidak terkungkung oleh waktu kerja seperti kerja di kantoran nine to nine, masuk kantor jam sembilan pagi, pulang jam sembilan malam. Bahkan dengan kerja notaris seperti ini, aku bisa mengatur jadwal untuk kerja, keluarga, organisasi, bisnis dan hobi.
Lantas apakah kerja dengan waktu flesibel ini bisa mendatangkan duit banyak?
Ah…, penghasilan besar bisa saja didapat, dan bahkan dengan bekerja sebagai notaris, seseorang bisa mendapatkan duit relatif besar. Tapi untuk mencapainya, seorang notaris harus melalui perjuangan, katanya. Dulu ketika baru buka kantor sedih banget rasanya. Klien masih sedikit, sementara pengeluaran operasional sangat besar. Ha…ha…ha…
Duh…, makanya aku sangat prihatin melihat adik-adik notaris baru dan juga calon notaris yang terus menerus mengeluarkan uang banyak untuk ikut pelatihan-pelatihan yang sebetulnya bisa dipelajari sendiri atau bisa didapat dengan biaya sedikit saja. Mereka ketika pendidikan notariat, sampai lulus, sampai diangkat notaris, sudah tentu keluar uang tidak sedikit. Sementara itu penghasilan belum ada. Sekarang pembekalan untuk notaris diharuskan dengan membayar kontribusi tertentu, dan ditakut-takuti apabila tidak mengikuti pembekalan tidak bisa membuat akta. Hal demikian rasanya sangat memberatkan para notaris-notaris baru sehingga layak hal-hal seperti itu ditinjau kembali dan ada sanksi apabila ada sekelompok orang tertentu yang melakukan pembuatan seperti itu sehingga tidak memberatkan anggota organisasi yang harusnya organisasi adalah untuk kepentingan anggota.
Namun rasa sedih dan tuntutan untuk survive memang harus dijalani setiap orang. Begitu pula aku. Walau dulu orangtuaku Jenderal yang pernah memimpin Pangdam Bukit Barisan di Sumatera Barat, dan juga pernah menjadi Sekjen Departemen Pertanian, kami sekeluarga dididik disiplin dan tidak manja. Aku bekerja betul-betul dari bawah. Untuk itu waktu kerja di bank aku berusaha setotal mungkin. Sampai-sampai kerjaan ngeliatin sasis mobil pun aku jalanin waktu kerja di bank. Begitu pula waktu jadi notaris, aku juga bisa menangani kerjaan jahit akta sendiri, garis akta, pengurusan di BPN, masukin pendaftaran PT. ke DEPKEH dan pembayaran pajak.
Memang perjalanan karirku sebagai notaris tidak lepas dari andil orangtua dan suami yang punya network luas. Tapi tak selamanya aku tergantung pada mereka. Nyatanya sekarang aku sudah bisa mandiri. Salah satu kunci suksesku adalah memelihara networking sejak kerja di bank, atau dari mana aja yang bisa dimanfaatkan. Uniknya, aku punya klien dari bank dulu yang masih setia sampai kini, dan bahkan anak dan cucunya pun ngikut jadi klienku…
Omong-omong soal klien, aku punya klien yang boleh dibilang fanatik, yang kebetulan berasal dari etnis tertentu yang ngikutin aku sampai sekarang. “Bahkan ada yang nggak mau signing kalau notarisnya bukan aku.” Buatku ini bukan cuma soal uangnya, tapi ini mengharukan dan sekaligus menyadarkan aku bahwa keberhasilan kerja notaris bukan cuma kapasitas SDM, atau networking saja. Namun lebih dari itu, dan tidak bisa dilihat secara sederhana. Di sini banyak unsur yang menentukan keberhasilan kerja notaris, antara lain kinerja, komitmen dan menepati janji, loyalitas
serta kejujuran. “Mana bisa kita gagal menyelesaikan pekerjaan sesuai janji, terus kita beralasan sakit atau ada kesibukan urusan lainnya?” Semuanya ya harus kita selesaikan secara profesional supaya klien tidak kecewa dan comfort.
Akhirnya sampailah kami di rumah Otty di Jalan Margasatwa, Jakarta Selatan. Rumah dengan tanah seluas sekitar 1.440 meter persegi itu di garasinya terparkir sebuah Mercedes Benz sport putih berpintu dua. Kemudian perbincangan berlanjut sambil menjalani sesi pemotretan bersama kru rias, fotografer, serta fotomodel.
Tidak bisa dimungkiri, penghasilan dari notaris akan bisa lebih besar dibandingkan dengan penghasilan sebagai karyawan, katanya. Tapi, ya itu tadi, kita harus menjaga semua komitmen profesi sehingga klien percaya. Dulu aku pernah mengalami masa booming ketika APHT harus didaftar, kata Otty mengenang masa-masa “emas” nya.
“Waktu itu kerja sampai pagi tetap dijabanin karena duitnya gede, ha…ha…”.
Tapi sekarang pekerjaan notaris tetap menarik walau nggak ada masa-masa booming. Apalagi kalau kita dapat klien untuk corporate loan. Bisa senyam-senyum terus kita, ha…ha…
Bagaimanapun kita tetap harus ingat bahwa komitmen pada klien merupakan syarat utama. Selanjutnya yang diperlukan juga adalah kemampuan SDM kita.
Aku punya sistem perkantoran hasil adopsi sistem kerja di bank dulu, terus kusempurnakan sehingga mendukung kinerja kantorku. Sistem yang kupakai ini, mulai dari pencatatan order dengan kode-kode yang memudahkan kita memantau order beberapa tahun ke belakang, sampai model kuitansi khusus. Semuanya ini hasil ciptaanku berdasarkan pengetahuan dari bank dan dikombinasikan sistem yang dipakai manajemen rumah sakit.
Nah, dengan sistem kontrol order klien yang seperti ini kita menangani order dengan baik dan nggak ada yang lewat. Sistem ini mirip-mirip dengan sistem di rumah sakit yang kumodifikasi.
Lantas network-mu di luar notaris itu cukup banyak, kan? Bukankah bisnismu itu membuka jalan untuk memperluas relasi? Belum lama ini kamu kabarnya "jalan-jalan sama" ibu-ibu pengusaha?
"Ya, itu memang sebagian dari aktivitasku sebagai pebisnis. Aku di Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) duduk sebagai Wakil Ketua Bidang Gender dan Sosial. Sekali waktu aku memang harus menjalani “dunia lain”. Lain waktu, aku bisa kumpul-kumpul sama alumni Fakultas Hukum Universitas Pancasila sebagai ketua umum. Lain waktu lagi, aku juga aktif di Ikatan Alumni Kenotariatan Undip sebagai Sekretaris Umum. Lain waktu di IKA SMA 383 sebagai bendahara umum dan beberapa organisasi lain aku sebagai pengurusnya. (pic. by : Bayu Youngky)