U-wo : Tidak Ada Sonya

Sonya Natalia

Setiap manusia lahir dilengkapi dengan ego sebagai salah satu alat mempertahankan hidupnya. Namun manusia juga secara alamiah juga diberikan Tuhan sifat “lupa diri” dan “berlebih-lebihan”. Sebagai satu-satunya makhluk yang diberikan Tuhan berupa budi pekerti, manusia harus pandai mengendalikan hal ini semua agar mencapai kehidupan yang baik sebagai makhluk sosial.
Dengan pengendalian hawa nafsu itulah manusia tidak merugikan orang lain, bahkan tidak merugikan diri sendiri sehingga hidupnya tidak sia-sia. Sayang kalau selama hidup, hidup kita merugi. Kita hidup di dunia cuma sebentar. Buktikan sendiri dan renungkan berjalannya waktu yang cepat setiap hari. Tahu-tahu umur kita sudah mencapai angka 30, 40 atau 50. Kita seperti cuma mampir sebentar untuk minum di dunia. Terus kemudian mati. Renungan agama kah ini? Boleh jadi ya, boleh jadi nasehat budi pekerti.
Kalimat-kalimat mengandung nasehat bagai seluruh umat manusia ini meluncur dari mulut mungil seorang notaris berkulit kemerahan dan berambut kecoklatan, Sonya Natalia. Indo kah dia? Ternyata bukan. Sonya yang lahir, besar dan menetap di Surabaya ini mengaku berdarah Minangkabau.
Sedang ngelanturkah Sonya? Atau apakah Sonya yang produk pendidikan Candidat Notaris  itu sedang sok tahu soal nasehat kehidupan? Tidak. “Kalimat-kalimat kehidupan” yang Ia sampaikan soal ego manusia tadi berasal dari nasehat kuno Cina berbunyi “U-Wo”.
Di dinding kantornya di Surabaya terpampang tulisan berhuruf Cina berbunyi “U-Wo” yang berarti “tidak ada aku”. Pesan tulisan “kaligrafi” Cina ini jelas : kesampingkan ego atau matikan ego tinggi untuk mencapai hidup yang lebih baik dan bermakna. Pokoknya : “tidak ada aku”.
Sonya, ibu 3 anak dan istri pemilik galeri seni ini, mengaku setuju dengan nasehat yang terkandung dalam kata “U-Wo” itu untuk mengingatkan dirinya agar tidak sombong akan kedudukan dan statusnya sebagai notaris atau pejabat, minimal sebagai bos di kantornya.
Menurutnya, ketika ditemui medianotaris.com beberapa bulan lalu, sebagai manusia ego kita besar. Dengan ego besar dan status sebagai notaris, kepala kantor, punya karyawan, bisa memerintah orang sesuka kita maka kita cenderung makin tinggi egonya. Kadang-kadang membuat manusia cenderung makin error.
Bagi notaris wanita kondisi ini bisa berbahaya jika makin tidak terkendali. Dalam kehidupan pribadi hal ini bisa menjadi faktor kegagalan hidup karena merasa lebih dari yang lain. Lebih dari suami. Lebih dari yang lain. Yang berstatus istri bisa bercerai, yang lajang akhirnya tidak mau menikah.
“U-Wo” mengajarkan kita bahwa profesi notaris atau profesi lain yang kita sandang bukanlah segalanya. Profesi kita tidak ada apa-apanya. Namun jika kita merasa bangga menjadi pejabat atau notaris maka ego kita, kesombongan kita menjadi dominan.
Jadi dengan nasehat “U-Wo” itulah kita diingatkan kapan menjadi pejabat, kapan menjadi istri. Bila kita sebagai wanita tidak ingat itu, “Wah, blaen (blaen adalah bahasa Jawa Timur yang artinya berabe atau gawat),” katanya dengan tersenyum.
Bagaimanakah nasehat “U-Wo” bila diterapkan untuk para pria? “Wah, bila para Bapak-bapak menerapkan nasehat “U-Wo” ini malah lebih baik, dan keren. Sebab para pria secara alamian lebih dominan dari wanita. Bila para pria menerapkan nasehat “tidak ada aku” maka akan keren,” katanya sambil tersenyum. (R-03)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top