Ilmu Menabur Bunga
Notaris yang akan mencalonkan diri menjadi anggota DPR atau DPRD dalam Pemilu 2014 mungkin lebih banyak dibandingkan dengan waktu Pemilu 2009. Tidak dimungkiri, menjadi pejabat publik –menurut sementara orang- sangat menarik dari sisi prestasi kerja, juga “menarik” dari sisi penghasilan, walau yang terakhir ini sangat relatif. Namun menjadi pejabat publik memiliki kelebihan tersendiri karena terdapat sisi menarik, yaitu menghadapi permasalahan rakyat dan popularitas sebagai figur publik.
Untuk mencapai tingkat keterkenalan sebagai pribadi dan pejabat publik, katakanlah sebagai anggota DPR atau sebagai walikota, adalah sebuah perjuangan yang tidak mudah dengan pengorbanan fisik, mental dan biaya yang tidak sedikit. Sebagai gambaran, tahun 2009 seorang teman dari Partai Golkar untuk daerah pemilihan di wilayah Banten telah menghabiskan dana sedikitnya Rp 2 Miliar. Hasilnya : … kalah. Ia kalah oleh pesaingnya dari partai yang berkuasa saat ini. Setelah itu Ia memilih menekuni bisnisnya semula di bidang kontraktor di Jakarta. Inilah sepenggal cerita betapa sulitnya mencapai tangga popularitas.

Namun Tuhan rupanya memberikan kemudahan untuk mencapai popularitas buat Hj. Siti Reynar, S.H., bahkan relatif tanpa biaya tidak seperti calon anggota DPR umumnya. Notaris Kabupaten Lamongan ini justru popularitasnya mengalahkan Bupati Lamongan ketika surat kabar daerah setempat mengadakan polling tokoh lokal dalam rangka pencalonan Bupati Lamongan. Namun sayang, kata orang, notaris berdarah Minang yang menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Airlangga ini tidak berminat ikut persaingan dalam pemilihan kepala daerah. “Nggak ah, ngurus kantor saja sudah cukup banyak menyita waktu saya, “ katanya enteng.
Reynar yang biasa dipanggil “Mbak Upik” ini di Kabupaten Lamongan itu banyak dikenal sebagai “notaris bank” sejak dulu sampai kini. Sehingga tidak heran jika banyak masyarakat mengenal namanya sebagai “notarisnya bank”. Medianotaris.com menemuinya sedang sibuk menjadi saksi dan mengesahkan undian Simpedes Bank BRI beberapa waktu lalu bersama pejabat setempat.
Buat orang lain, keenggan Reynar bersaing dalam pilkada untuk menjadi kepala daerah dianggap aneh ketika popularitasnya tinggi. Sementara, orang berusaha mati-matian untuk memenangkan pilkada, Reynar enteng saja menanggapi : “Nanti-nati saja, Ah… Buat saya, menjadi pejabat publik itu tidak mudah pertanggungjwabannya kepada rakyat,” katanya.
Kepopuleran, dan komitmen berorganisasi Reynar pantas diakui. Di organisasi INI dan IPPAT Lamongan, Ia adalah ketua INI dan IPPAT Lamongan selama dua periode. Selanjutnya suatu kali Ia kalah tipis oleh pesaingnya di persaingan memperebutkan Ketua Pengwil IPPAT Jawa Timur. Ia juga kalah oleh pesaingnya yang lain ketika memperebutkan Ketua Pengwil INI Jawa Timur.
Tapi buat notaris senior ini semua dianggap sebagai pengalaman hidup yang baik, dan tak perlu menjadi beban pikiran. Ia tidak stres karena tidak menjadi ketua apa pun. Ia punya semuanya. Toh kini Ia memimpin kantor dengan jumlah karyawan belasan orang, termasuk di antaranya mantan pegawai Kantor Pertanahan, dengan menerima hidup dengan ikhlas. Baginya, hidup itu saling menolong dan ikhlas, sehingga kehidupan akan berjalan dengan baik dan bahagia. Sang waktu membuktikan hal ini : di garasi salah satu rumahnya di Lamongan yang digunakan kantor, diparkir sebuah mobil mewah Mercedes Benz seri baru yang dipakai bergantian dengan Fortuner baru pula. Kabarnya, sang suami –Suhartedjo- mengelola usaha pom bensin.
Jadi ketika dicalonkan menjadi Ketua Pengurus Wilayah INI atau IPPAT Jawa Timur, Ia datang sebagai calon yang tidak punya beban apa-apa, dan tak berharap mencari sesuatu di organisasi, kecuali kepuasan berbagi pengalaman dan saling membantu antar teman.
Kemudian pikirannya melayang dan terkenang dengan pengalaman dan situasi menjelang pemilihan Ketua Pengurus Wilayah IPPAT. Ia pernah menyatakan pada anggota IPPAT di Jawa Timur untuk memilih pemimpin yang tidak bermasalah. Namun omongan Reynar alias Upik ini dianggap angin lalu. Waktu itu akhirnya yang terpilih adalah pesaingnya, yang kemudian dalam perjalanan ternyata menghadapi masalah hukum, dipanggil di pengadilan.
Walau begitu Reynar senantiasa berusaha menjaga hubungan baik dengan siapa pun. Ia pun senantiasa memberitahu teman-temannya agar tidak berbicara mengenai sesuatu bila tidak memahami maksudnya. Apalagi, kata notaris yang dulu magang di kantor Notaris Wawan Setiawan ini, membicarakan masalah yang tidak jelas melalui media sosial dan melalui black berry merupakan kekeliruan karena bisa menimbulkan fitnah.
Mengenai pemberian wewenang oleh BPN kepada PPAT untuk mencetak akta PPAT sendiri, menurutnya baik dan tidak terlalu menentukan dari sebuah perbaikan kinerja. Menurutnya justru untuk memajukan kinerja PPAT itu adalah dengan menjaga komunikasi yang baik dengan Kantor Pertanahan atau BPN. Itulah makanya di Lamongan Reynar selama menjadi PPAT atau notaris tidak pernah menemui masalah dalam bekerja. Ia pun banyak belajar dari suaminya yang juga notaris di Mojokerto, di antaranya adalah dengan “ilmu menabur bunga”. Menurut suaminya, cara menabur bunga di makam adalah dari bagian kepala terus ke kaki adalah filosofi yang mengandung makna menjaga hubungan baik terhadap semua kalangan mulai dari atas sampai bawah. Sehingga dalam bekerja ketika berhubungan siapa pun Ia paham harus bagaimana memperlakukan para relasinya dari atas sampai bawah sehingga semuanya dirangkul. Menurutnya kalau kita melakukan filosofi tabur bunga maka hidup itu akan menjadi enak, tidak ada masalah. Filosofi ini dibarengi dengan melakukan sedekah secara ikhlas. Untuk sedekah ini bukan berarti hanya uang. Namun bisa banyak dilakukan dengan bentuk macam-macam yang bisa membantu mempermudah orang lain. Sedekah tidak selalu berarti ke masjid atau yatim piatu.
Mengenal Upik “Reynar” ini rasanya tak perlu banyak yang diungkap bagaimana Ia menjalani hidupnya dengan masyarakat sekitar yang mengenalnya, mulai dari sedekah sampai soal menjaga hubungan baik dengan sesama profesi, atau siapa pun. Yang penting kini Ia memiliki segalanya : sukses di dalam karir, hubungan baik dengan Tuhan dan sesamanya, serta… suami yang ramah, baik dan suka bercanda.

Namun Tuhan rupanya memberikan kemudahan untuk mencapai popularitas buat Hj. Siti Reynar, S.H., bahkan relatif tanpa biaya tidak seperti calon anggota DPR umumnya. Notaris Kabupaten Lamongan ini justru popularitasnya mengalahkan Bupati Lamongan ketika surat kabar daerah setempat mengadakan polling tokoh lokal dalam rangka pencalonan Bupati Lamongan. Namun sayang, kata orang, notaris berdarah Minang yang menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Airlangga ini tidak berminat ikut persaingan dalam pemilihan kepala daerah. “Nggak ah, ngurus kantor saja sudah cukup banyak menyita waktu saya, “ katanya enteng.
Reynar yang biasa dipanggil “Mbak Upik” ini di Kabupaten Lamongan itu banyak dikenal sebagai “notaris bank” sejak dulu sampai kini. Sehingga tidak heran jika banyak masyarakat mengenal namanya sebagai “notarisnya bank”. Medianotaris.com menemuinya sedang sibuk menjadi saksi dan mengesahkan undian Simpedes Bank BRI beberapa waktu lalu bersama pejabat setempat.
Buat orang lain, keenggan Reynar bersaing dalam pilkada untuk menjadi kepala daerah dianggap aneh ketika popularitasnya tinggi. Sementara, orang berusaha mati-matian untuk memenangkan pilkada, Reynar enteng saja menanggapi : “Nanti-nati saja, Ah… Buat saya, menjadi pejabat publik itu tidak mudah pertanggungjwabannya kepada rakyat,” katanya.

Tapi buat notaris senior ini semua dianggap sebagai pengalaman hidup yang baik, dan tak perlu menjadi beban pikiran. Ia tidak stres karena tidak menjadi ketua apa pun. Ia punya semuanya. Toh kini Ia memimpin kantor dengan jumlah karyawan belasan orang, termasuk di antaranya mantan pegawai Kantor Pertanahan, dengan menerima hidup dengan ikhlas. Baginya, hidup itu saling menolong dan ikhlas, sehingga kehidupan akan berjalan dengan baik dan bahagia. Sang waktu membuktikan hal ini : di garasi salah satu rumahnya di Lamongan yang digunakan kantor, diparkir sebuah mobil mewah Mercedes Benz seri baru yang dipakai bergantian dengan Fortuner baru pula. Kabarnya, sang suami –Suhartedjo- mengelola usaha pom bensin.

Jadi ketika dicalonkan menjadi Ketua Pengurus Wilayah INI atau IPPAT Jawa Timur, Ia datang sebagai calon yang tidak punya beban apa-apa, dan tak berharap mencari sesuatu di organisasi, kecuali kepuasan berbagi pengalaman dan saling membantu antar teman.
Kemudian pikirannya melayang dan terkenang dengan pengalaman dan situasi menjelang pemilihan Ketua Pengurus Wilayah IPPAT. Ia pernah menyatakan pada anggota IPPAT di Jawa Timur untuk memilih pemimpin yang tidak bermasalah. Namun omongan Reynar alias Upik ini dianggap angin lalu. Waktu itu akhirnya yang terpilih adalah pesaingnya, yang kemudian dalam perjalanan ternyata menghadapi masalah hukum, dipanggil di pengadilan.
Walau begitu Reynar senantiasa berusaha menjaga hubungan baik dengan siapa pun. Ia pun senantiasa memberitahu teman-temannya agar tidak berbicara mengenai sesuatu bila tidak memahami maksudnya. Apalagi, kata notaris yang dulu magang di kantor Notaris Wawan Setiawan ini, membicarakan masalah yang tidak jelas melalui media sosial dan melalui black berry merupakan kekeliruan karena bisa menimbulkan fitnah.

Mengenai pemberian wewenang oleh BPN kepada PPAT untuk mencetak akta PPAT sendiri, menurutnya baik dan tidak terlalu menentukan dari sebuah perbaikan kinerja. Menurutnya justru untuk memajukan kinerja PPAT itu adalah dengan menjaga komunikasi yang baik dengan Kantor Pertanahan atau BPN. Itulah makanya di Lamongan Reynar selama menjadi PPAT atau notaris tidak pernah menemui masalah dalam bekerja. Ia pun banyak belajar dari suaminya yang juga notaris di Mojokerto, di antaranya adalah dengan “ilmu menabur bunga”. Menurut suaminya, cara menabur bunga di makam adalah dari bagian kepala terus ke kaki adalah filosofi yang mengandung makna menjaga hubungan baik terhadap semua kalangan mulai dari atas sampai bawah. Sehingga dalam bekerja ketika berhubungan siapa pun Ia paham harus bagaimana memperlakukan para relasinya dari atas sampai bawah sehingga semuanya dirangkul. Menurutnya kalau kita melakukan filosofi tabur bunga maka hidup itu akan menjadi enak, tidak ada masalah. Filosofi ini dibarengi dengan melakukan sedekah secara ikhlas. Untuk sedekah ini bukan berarti hanya uang. Namun bisa banyak dilakukan dengan bentuk macam-macam yang bisa membantu mempermudah orang lain. Sedekah tidak selalu berarti ke masjid atau yatim piatu.
Mengenal Upik “Reynar” ini rasanya tak perlu banyak yang diungkap bagaimana Ia menjalani hidupnya dengan masyarakat sekitar yang mengenalnya, mulai dari sedekah sampai soal menjaga hubungan baik dengan sesama profesi, atau siapa pun. Yang penting kini Ia memiliki segalanya : sukses di dalam karir, hubungan baik dengan Tuhan dan sesamanya, serta… suami yang ramah, baik dan suka bercanda.