Tidak bisa dimungkiri, di antara sekian jenis pekerjaan sarjana hukum, mulai dari hakim, jaksa, polisi, advokat, pekerjaan sebagai notarislah yang relatif terhindar dari friksi ketika bekerja. Makanya banyak yang bilang, notaris adalah profesi yang cool, untuk menyatakan bahwa pekerjaan notaris banyak terhindar dari pertentangan dengan banyak pihak saat bekerja.
Maka dari itulah bagi sebagian orang, notaris dipandang sebagai pekerjaan yang “menjanjikan”. Akhirnya di antara para profesional di bidang hukum, seperti advokat, manajer hukum perusahaan, bahkan jaksa, akhirnya memilih beralih ke profesi ini.
Medianotaris.com mewawancarai para wanita yang semula lama bekerja di kantoran akhirnya banting setir ke notaris. Mereka adalah Artati Yudhiwati, Erni Milono dan Meggy T. Buana.
Artati Yudhiwati, S.H., M.Kn.
Dekat Dengan Keluarga

Di tempat kerja yang lama bukannya tidak menarik. Yudhi, panggilan Artati, selama 17 tahun lebih bekerja Sinarmas banyak memperoleh pengalaman menangani masalah humas, administrasi dan perijinan. Bukan hanya itu lulusan FH Universitas Sriwijaya ini pun berpindah-pindah satu perusahaan ke perusahaan lain di grup usaha itu antara Jakarta dan Jambi. Menurutnya, pekerjaan mengurusi perijinan selama di perusahaan tidak jauh-jauh beda dengan pekerjaan notaris yang juga berurusan dengan instansi pemerintah. Nah, kenapa Ia akhirnya memilih notaris untuk sandaran hidupnya yang baru, ya alasan itu tadi : masalah keluarga.
Soal makin banyaknya notaris bertebaran di mana-mana dan notaris yang kaya, menurutnya tak perlu menjadi beban pikiran. Ia hanya memikirkan bahwa untuk sukses maka harus meningkatkan kualitas diri dan pelayanan. Selain itu soal kaya atau tidak, selain masalah pelayanan dan kualitas diri, selebihnya adalah soal jam terbang si notaris tersebut. Jadi bekerjalah terus dengan pelayanan yang baik dan konsisten.
Erni Milono, S.H., M.M., M.Kn.
Ahli Membaca Tulisan Tangan
Sementara itu calon notaris yang saat ini magang di kantor notaris Henry di Bogor ini tergolong komplit pengalamannya sebelum memutuskan masuk ke dunia kenotariatan. Sejak lulus S1 dari FH Universitas Kristen Satya Wacana, Surakarta tahun 1985, Ia bekerja di UNDP, salah satu lembaga prestise di bawah bendera PBB. Di lembaga United Nation Development Programme ini Ia ikut mengerjakan proyek yang berhubungan dengan pemberdayaan masyarakat dan pemberdayaan perempuan selama hampir 2 tahun. Saat itu jugalah Ia melanjutkan studi S2 di Asian Institute Management Manila.

Setelah belajar manajemen dari Manila inilah kemudian Erni bekerja di perusahaan makanan terkenal PT Nutrifood Indonesia selama 18 tahun! Di perusahaan tempatnya bekerja, di bidang manajerial itu Ia pun pindah-pindah posisi di Government Relations, Human Resources/Industrial Relations dan Corporate Governance. Ketika baru bekerja di perusahaan di bagian Human Resources Ia menangani manajemen personalia, mulai training, rekrutmen, compensation benefit sampai masalah PHK. Ia juga menangani government relations, yaitu masalah perijinan pabrik dan mengelola hubungan dengan pemerintah serta msyarakat sekitar. Kemudian, Erni yang pernah menjadi salah satu Ketua APINDO Bogor ini, juga menangani corporate governance, yaitu membuat Panduan Tata Kelola Direksi dan Komisaris dan mengelola penerapan GCG di perusahaan.
Cukup puas bekerja di perusahaan, Erni pun memulai masuk ke dunia kenotariatan yang Ia cita-citakan sejak kuliah di Fakultas Hukum. Masuklah Ia ke Program Kenotariaatan Fakultas Hukum UI, Depok. Untuk ini pun Ia ingin fokus belajar, dan memilih bekerja di tempat lain secara paruh waktu. Dengan demikian waktu untuk belajar kenotariatan pun bisa fokus. Hasilnya, kini Ia sudah M.Kn. dan Ia pun duduk di antara peserta saat pendidikan SABH di Hotel Kartika Chandra beberapa waktu lalu.
Uniknya, mahasiswa Kenotariatan FH UI tahun 2010 ini punya profesi lain sebagai penganalisa tulisan dan tandatangan atau grafolog. Dengan keahlian ini Ia bisa menganalisa keaslian tulisan dan tandatangan. Tidak cuma itu, dengan keahlian itu Ia bisa menganalisa karakter dan potensi seseorang melalui tulisan tangannya.
Dengan sertifikat sebagai ahli grafologi Erni bisa menjalankan profesi ini untuk sambilan. Karakter tulisan dan tandatangan seseorang bisa dianalisa secara grafis melalui ilmu grafologi sehingga kepribadian dan potensinya bisa dilihat. Keahlian ini perlu saat melakukan rekrutmen karyawan di perusahaan atau anak-anak sekolah yang ingin memilih jurusan. Bisa juga untuk kasus-kasus tertentu misalnya, fraud atau pemalsuan tulisan/tanda tangan.
Meggy Tri Buana, S.H., M.Kn.
Gratis untuk Yang Tidak Mampu
Calon notaris yang satu ini lain lagi. Meggy adalah pebisnis. Usaha studio rekaman, klinik kecantikan, persewaan mobil operasional di pertambangan sampai suplayer spare part alat-alat pertambahan pernah dilakoni Meggy. Namun sekarang Ia fokus di usaha perkebunan.
Meggy mengaku lulus FH tahun 2004 karena keburu menikah, dan berbisnis. Kini lulusan Notariat Fakultas Hukum UI tahun 2012 itu tertarik menjadi notaris karena semata-mata mengikuti kata hatinya. Ia, akunya, tidak punya orangtua atau kakek notaris. Jadi, Ia hanya kepingin saja sesuai hati yang Ia anggap merupakan petunjuk Tuhan. Apalagi membayangkan penghasilan tinggi dari notaris dan dunia glamornya. Tidak. Ia malah mengaku dari bisnislah uang datang banyak dan mencukupi kehidupannya bersama keluarga.
Meggy ingin menjalani pekerjaan notaris dengan sebaik-baiknya dengan mengamalkan ilmu yang didapatnya dari Universitas Indonesia. Yang saya impikan dari dunia notaris adalah bisa membantu orang yang tidak mampu nanti dibebaskan dari biaya.
Apabila nanti lulus dan diangkat menjadi notaris, sudah tentu tidak bisa menjadi pengusaha toh? “Bisnis saya tetap jalan, dan saya bukan direkturnya, apa lagi perusahaan saya sudah jalan. Jadi amanlah,” katanya.